Monday, December 21, 2009

Jalan Macet, Semut, Jangkrik, Locust, dan ekonomi?

Bisa menarik hubungan gak antara hubungan ilmu kemacetan jalanan dengan ekonomi? Lalu dimana letaknya semut dan belalang/jangkrik pada ilmu2 tersebut?

Sedikit ilmu menarik tentang jalanan yang macet. Di kisahkan belalang jika jalan sendiri-sendiri sifatnya ramah, pergi menghindar dari predator (shy) dan tidak agresif. Yang penting, mereka tidak berusaha untuk mendekat/menjadi sosial bergabung dengan belalang lain. Namun ketika musibah kekeringan melanda, jumlah makanan yang tersedia buat belalang menjadi sedikit sehingga banyak belalang mulai berkumpul ke satu daerah tersebut. Makin lama gerombolan belalang semakin besar dan mencapai jumlah kritikal. Sifat belalang yang tadinya berusaha menghindari belalang lain akhirnya berubah, mereka menjadi satu grup yang umumnya bergerak secara bersama-sama, dan gesekan sayap satu dengan lainnya dan kaki belalang satu dengan lainnya akan membuat mereka berubah menjadi agresif. Perlu diketahui bahwa belalang yang di depan umumnya akan memperoleh makanan lebih dahulu, dan belalang yang di belakang akan kehilangan makanan karena seluruh tanaman di depannya sudah dimakan oleh belalang barisan depan.

Perilaku serupa juga ditemukan pada spesies jangkrik Mormon (anabrus simplex) di tahun 1848. Demikanlah maka demi mempertahankan hidupnya, jangkrik tak bersayap ini menunjukkan perilaku yang sangat agresif. Jangkrik yang ada di belakang ternyata berubah menjadi kanibal. Mereka berusaha bergerak dan melahap (memakan) jangkrik yang ada di depannya, sambil pada saat yang sama berupaya untuk menghindar dari jangkrik yang ada di belakangnya.

Perilaku jangkrik ini ternyata mirip dengan perilaku manusia dalam mengemudi di jalan. Di kehidupan sehari-hari, si A orangnya sangat ramah, senang membantu dan toleransi tinggi. Tapi begitu ia masuk ke dalam mobil, perilakunya berubah. Ia tidak pernah menyapa pengemudi di sebelahnya saat sedang berhenti di lampu merah, ia marah dengan pengendara sepeda motor di depannya, ia marah dengan pak polisi yang menyuruhnya berhenti, dan juga marah karena terjebak dalam kurungan mobil-mobil lainnya di jalan. Kalau tidak ada hukum yang melarangnya menerobos atau bahkan melindas mobil di depannya agar ia bisa lewat, tentu semua mobil akan berubah menjadi tank atau mobil dengan ban raksasa agar ia bisa lebih mudah melewati mobil di depannya (perilaku kanibalistik pengemudi).

Perilaku semut dalam hal mengatur lalu lintas gerak satu semut dengan semut lainnya ternyata sangat berbeda. Semut yang buta akan mengandalkan pada runutan zat kimia yang dilepaskan semut di depannya untuk mencari makanan. Jadi banyak semut bergerak dalam satu jalan. Satu jalan ini berfungsi juga untuk menuntun semut-semut tersebut kembali ke sarangnya (dua arah). Penelitian menunjukkan bahwa semut yang keluar sarang umumnya bergerak di jalur luar (kanan-kiri), sementara semut yang kembali ke sarang bergerak di jalur dalam (ada tiga lajur yang bisa diikuti semut). Dan perbedaan yang sangat besar dalam kasus semut ini adalah sifat agresif yang tidak ada pada lalu lintas semut. Mereka bergerak dalam jalur bersama yang sifatnya kooperatif, bukannya kanibalistis (kompetitif). Sifat ini berbeda dengan sifat gerombolan jangkrik tersebut.

Pengetahuan semacam inilah yang kemudian mengilhami beberapa teknik pengaturan jalan raya. Mobil satu dengan lainnya selalu diusahakan untuk bergerak dengan sifat semut, dan berusaha menghilangkan sifat jangkriknya. Jalanan teratur dimana mobil satu dengan lainnya tidak berusaha saling menyalip (namun dengan teratur menunggu giliran --- Prinsip NGANTRI yang TERATUR) ternyata didapati membuat jalanan lebih lancar dan nyaman (tentunya terbatas dengan kapasitas lebar jalannya juga). Lampu-lampu merah yang sifatnya kritikal diusahakan untuk menggunakan program software real time yang bisa mengatur pemenuhan permintaan (mobil ngantri) dan supply (lampu hijau). Di negara maju, mereka menggunakan induksi magnetis (ada garis bentuk kotak di jalan yang bisa membaca jumlah mobil yang lewat di kotak tersebut).

Bagaimana hubungannya dengan ekonomi? Susah juga, soalnya saya agak maksa-maksain... he..he...
Tapi model locust/jangkrik adalah model ekonomi pasar bebas yang sifatnya kompetisi. Model semut adalah model ekonomi sosialis. Kedua-dua jenis spesies ini merupakan spesies tangguh yang sudah lewat proses seleksi alam ribuan juta tahun (buat yang percaya teori evolusi), atau setidaknya masih bisa bertahan hidup sampai saat ini sejak penciptaannya. Kalau kita ini jangkrik, kita tidak punya pilihan selain bersifat seperti jangkrik yang kompetitif tersebut. Kalau kita semut, kitapun tidak punya pilihan lain selain bertingkah laku seperti semut. Namun sebagai manusia, kita bisa belajar dari semut maupun jangkrik ini dan mengambil kebaikan yang mereka tunjukkan.

Prinsip kompetisi kapitalis memang sudah membawa umat manusia pada kesejahteraan dan perkembangan taraf hidup yang lebih baik. Namun jika gerakan manusia yang agresif seperti jangkrik ini adalah hama atas lingkungan hidup (kehancuran spesies lain, banyak rakyat kecil yang di kanibalistikkan, tanaman dan hutan yang tidak bisa direboisasi lagi), barangkali sudah saatnya kita mulai mencontoh semut yang bergerak teratur dan bekerja sama agar suatu tujuan bersama bisa dicapai. Menjaga kelestarian hutan adalah bentuk melindungi sumber air (sungai) manusia. Dan kita perlu air. Kiranya kita bisa menghindari bertingkah laku seperti jangkrik yang membabat habis tanaman di depannya sehingga kita tidak kehilangan sumber air bersih yang kita butuhkan sendiri. Kiranya juga kita tidak terlalu bergantung dengan energi yang ternyata membuat suhu udara semakin panas dan akhirnya mengubah siklus alam dan iklim. Apakah kita bisa? Entahlah, kalau kita ini jangkrik, barangkali kita tidak bisa. Tapi kalau kita ini manusia beradab, mustinya kita bisa...

Jika lain kali ada pengemudi yang ugal-ugalan di jalan, tentunya anda punya penjelasan ilmiah terhadapnya jika anda berteriak.... "JANGKRIK... LOE".... ha...ha.. ha...

Saturday, October 17, 2009

Pemenang Nobel Ekonomi 2009

Elinor Ostrom and Oliver Williamson adalah pemenang nobel ekonomi tahun 2009. Yang menarik ternyata, adalah satu orang dari disiplin ilmu ekonomi, sementara yang satunya lagi dari disiplin politik. Apa artinya ini? Apakah politik dan ekonomi ternyata mulai membaur sehingga ilmuwan politik ternyata meraih nobel ekonomi?

Karya dari kedua orang ini menunjukkan bahwa ilmu ekonomi bukanlah tentang "Pasar", melainkan tentang alokasi sumber daya (alam, manusia, waktu, kelestarian lingkungan, dll) dan juga tentang distribusinya. Pasar (baik tradisional maupun pasar modern) muncul karena pasar ini berfungsi sangat baik dan efektif untuk mengalokasikan beberapa dari sumber daya ini. Namun yang perlu ditekankan dalam tesis mereka adalah dalam kata "BEBERAPA". Alternatif dan aturan-aturan lainnya telah disusun untuk menangani ketidakmampuan pasar ini dalam mengelola alokasi dan distribusi sumber daya lainnya. Jadi demikianlah tema umum nobel ekonomi baik tahun 2009 ini maupun beberapa tahun yang lalu (dimana Stiglitz maupun Krugman) berupaya mencari tahu kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh sistem pasar.

Demikianlah, ketidak-sempurnaan pasar ini dicari alternatif pemecahan masalahnya, baik melalui struktur organisasi, politik (yang merupakan alasan dimana salah satu pemenangnya adalah dari ilmu politik), aturan-aturan, petunjuk moral (PANCASILA, Gotong-ROYONG), manajemen informasi, dan insentif bukan uang seperti dengan menjadi terkenal, atau dianggap sebagai penatua masyarakat.

Sering kali aturan-aturan institusi ini bergerak dengan cara menciptakan pasar baru. Misalnya dengan konsep karbon trading, dimana emisi karbon berupaya untuk dimasukkan sebagai bagian dari biaya sebab emisi karbon ini mempengaruhi kualitas udara setiap manusia, bukan cuma pembeli dari produk konsumsi tersebut. Tentu disadari pula bahwa upaya inipun sulit, hampir mustahil dan bahkan tidak praktis dalam hal upaya memonitor/memberikan penalti serta ongkos-ongkos lainnya yang terlibat.

Kita dapat menarik pemahaman lebih dalam tentang ekonomi dari tesis mereka ini. Ternyata sistem kompetisi (non-cooperative) menghasilkan output yang melenceng dan sangat tidak mencukupi dari output optimal yang seharusnya bisa dicapai. Sistem kompetisi yang ditujukan untuk menurunkan harga dan meningkatkan efisiensi/efektifitas menunjukkan hasil yang baik, namun sistem semacam ini tidak cukup untuk kasus-kasus lainnya. Kedua pemenang nobel ini menunjukkan bahwa perlu suatu desain kreatif atas suatu institusi yang bertujuan untuk menjadi suplemen dari sistem kompetisi ini agar hasil akhirnya menjadi lebih optimal, baik dari segi sosial, ekonomis dan juga keadilan.


Aliran neoliberalisme (adam smith garis keras), menyatakan bahwa tindakan-tindakan kooperatif umumnya tidak akan berhasil. Contoh saja organisasi OPEC yang ingin membatasi supply agar harga minyak mentah menjadi tinggi. Tindakan-tindakan kooperatif umumnya selalu diiringi dengan penyakit "free rider". Misalnya saja dalam negara komunisme, akan ada banyak orang yang memilih untuk menganggur dan tidak bekerja sebab tanpa bekerja pun mereka masih bisa makan. Atau dalam kasus OPEC misalnya, bahwa semakin tinggi harga akibat supply yang semakin kering, akan semakin banyak negara yang berusaha untuk membangkang dan mulai menjual melebihi kuota yang diberikan kepada negara tersebut.

Contoh lainnya adalah tentang kolaborasi pengetahuan. Kita tahu bahwa pengetahuan/knowledge memiliki karakteristik yang unik, yakni bila seseorang memiliki pengetahuan, dan jika ia membagikannya maka ia masih akan memiliki pengetahuan itu sendiri tapi disaat yang sama orang lain juga akan memilikinya. Namun harus diakui bahwa proses dan biaya untuk mencari pengetahuan awal tersebut bukanlah proses yang mudah (biaya melakukan inovasi adalah tinggi). Jadi bila suatu perusahaan berupaya melakukan inovasi, insentif apakah yang dapat digunakan agar inovasi ini bermanfaat untuk orang banyak (semakin banyak inovasi) tapi insentif bagi inovator ini masih tetap ada? Kolaborasi pengetahuan tentu diketahui akan lebih mempercepat inovasi, namun disaat yang sama insentif bagi orang-per-orang (atau perusahaan) akan semakin menurun. Kita contohkan saja antara perang pembuatan software microsoft yang menggunakan paten dibandingkan dengan sistem open-source seperti linux. Linux sering memberikan inovasi dan teknologi tinggi tapi ternyata insentif keuangannya ternyata juga tidak banyak. Malah sampai sekarangpun Microsoft masih meraja-lela. "They examine the boundaries between the firm and the market" - as the Nobel Comittee put it.

Ostrom juga mencari tahu bahwa sumber daya umum (public property) ternyata tidak selalu harus diprivatisasi ataupun diserahkan kepada pemerintah. Kebaikan umum bagi masyarakat (a common good) umumnya bersifat kompetisi namun pada saat yang sama ia juga harus dibagi (shared but at the same time rivalrous). Artinya bila seseorang menggunakan kebaikan itu (menebang hutan untuk keuntungan moneter) maka orang lain akan kehilangan benefit dari hutan tersebut (kelestarian, udara segar, flora, fauna, dll). Beberapa bentuk common goods memiliki opsi untuk diprivatisasi atau digunakan sebagai hak publik, namun beberapa sudah tak memiliki opsi tersebut. Contohnya saja laut, sungai dan udara bersih adalah hampir tidak mungkin untuk di jadikan milik orang pribadi/perusahaan.

Dan bila kita mau berbicara tentang BUMN (privatisasi atau dijadikan milik negara atau sebagai common goods), ada baiknya juga kita perlu mengetahui tentang ide yang dikemukakan Ostrom dan Williamson ini.

Masalah kesehatan masyarakat dan penanganan pandemi (penyakit menular) tidak seharusnya dilakukan secara private/melalui sistem kompetisi, namun harusnya dilakukan secara kooperatif. Demikian pula tentang masalah kebersihan udara dan kelangsungan hidup bumi ini. Kegiatan kooperasi manusia/negara untuk mengangani pencemaran lingkungan/udara juga adalah suatu tindakan yang sebaiknya dilakukan secara kooperatif. Namun kembali kita bertanya apakah sistem kooperasi ini bisa berjalan? Insentif apa yang perlu diberikan agar kebaikan masyarakat umum ini bisa dicapai tanpa adanya free rider?

Dan kita kembali kepada sistem ekonomi pancasila dan prinsip ekonomi koperasi yang banyak didengungkan di milis-milis.... Barangkali sudah saatnya kita juga ikut serta dalam pengembangan sistem insentif yang memungkinkan berlangsungnya sistem kooperatif, sambil pada saat yang sama menghindari kehancuran ekonomi komunisme yang notabene seharusnya merupakan sistem kooperatif.

http://www.forbes.com/2009/10/12/economics-nobel-elinor-ostrom-oliver-williamson-opinions-contributors-michael-spence.html

Sunday, September 27, 2009

Tidak ada Pisang di Jerman Timur (dulu)

Sistem ekonomi otokratik atau sering dikenal dengan nama 'command and control' adalah sistem yang dianut oleh negara-negara komunis. Dasar pemikiran dari sistem command and control ini adalah bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah akan membawa keadilan yang lebih merata.

Namun kenyataan menunjukkan bahwa keadilan yang dicari oleh pemerintah ini dapat terkorupsi sebab aparat negara yang merencanakan pembangunan dan merencanakan pemerataan ini ternyata berubah menjadi eksklusif. Kekuasaan yang terlalu besar pada pemerintah telah mengubah fokus mereka untuk menjaga kelanggengan pemerintah dan mulai menerapkan tangan besi untuk memaksakan kehendak.

Semakin keras pemerintah menekan dan memaksa, semakin rendah moral rakyat untuk berproduksi. Dan anekdot populer setelah keruntuhan tembok Berlin menggambarkan gagalnya pemaksaan dan aturan ekonomi 'command and control' yang diterapkan oleh pemerintahan komunis Jerman Timur tersebut. Disebutkan bahwa penduduk Jerman Timur tidak pernah memakan pisang sebab buah pisang ini tidak pernah diproduksi di Jerman Timur. Berbagai toko-toko buah dan makanan pun akhirnya mulai berdiri di sepanjang jalan yang menghubungkan perbatasan Jerman Timur dan Jerman Barat. Pemerintah Jerman Barat pun menyadari keinginan penduduk Jerman Timur untuk mencoba rasa buah pisang yang eksotik ini, Pemerintah Jerman Barat kemudian membagikan buah pisang gratis pada penduduk Jerman Timur untuk merayakan runtuhnya komunisme di tempat Postdamer Platz, Berlin segera setelah tembok Berlin itu diruntuhkan.

Disini dibuktikan bahwa prinsip ekonomi pasar bebas jelas memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan ekonomi 'command and control'. Pasar bebas akan menyediakan barang yang diinginkan penduduk, dan bukannya barang yang menurut para birokrat dibutuhkan oleh penduduk. Landasan utama keajaiban sistem pasar bebas ini bisa diringkas dengan peribahasa berikut: dua kepala menghasilkan solusi yang lebih baik daripada solusi satu kepala. Dan dengan mengikut-sertakan seluruh otak-otak masyarakat untuk berpartisipasi dalam sistem ekonomi ini, maka sistem ekonomi pasar telah terbukti lebih unggul dari sistem ekonomi command and control.

Lalu teknik apa yang memungkinkan semua orang untuk berpartisipasi? Yang pertama adalah adanya hubungan antara usaha dan hasil. Tiap orang yang ingin memperoleh sesuatu keuntungan perlu menyumbangkan kerja yang dapat dinikmati oleh orang lain (pembayar/konsumen). Jadi pelaku-pelaku ekonomi yang dapat mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan dapat menyediakan barang atau jasa yang memenuhi keinginan konsumen dengan harga murah dan kualitas tinggi akan menerima balas jasa yang seimbang dengan usahanya tersebut. Demikianlah maka sistem ekonomi yang baik akhirnya akan berorientasi lebih kepada pemenuhan kebutuhan konsumen.

Lalu bagaimana dengan produsen? Kita ingat bahwa elemen utama dari sistem ekonomi yang baik adalah pemenuhan kebutuhan konsumen. Produsen yang baik tentu harus dapat mengenal kebutuhan konsumennya. Masalah timbul bila produsen ini memiliki kemampuan yang besar untuk memanipulasi persepsi konsumen. Alih-alih menunggu dan mencari apa yang dibutuhkan konsumen, produsen dapat menciptakan barang baru dan membujuk konsumen agar konsumen percaya bahwa barang yang mereka produksi dibutuhkan oleh konsumen.

Kita berikan contoh ekstrim pada industri narkoba. Konsumen yang dulunya tidak membutuhkan narkoba bisa dibujuk dan dibuat kecanduan sehingga produsen narkoba memperoleh konsumen baru dan industri narkoba yang sebenarnya tidak diperlukan akhirnya menjadi kebutuhan pokok dari konsumen tersebut. Contoh lain yang agak ringan barangkali dalam hal industri rokok. Rokok jelas bukanlah kebutuhan utama manusia sebab manusia bisa hidup normal tanpa merokok. Namun berbagai iklan dan advertisement dapat mengubah persepsi muda-mudi yang seharusnya sehat dan menjauhi rokok, dan mengubahnya menjadi pecandu rokok karena mereka tidak bisa lepas dari efek nikotin dalam rokok. Contoh lainnya juga adalah dimana produsen barang impor mewah yang menyatakan bahwa wanita/pria tidak akan cantik/ganteng kalau tidak menggunakan barang impor asli yang harganya dibawah 50 juta rupiah, misalnya.

Disinilah dapat kita lihat bahwa ternyata sedikit demi sedikit konsumen mulai kehilangan posisi pentingnya dalam proses pasar bebas ini. Posisi sentral konsumen sebenarnya telah digantikan oleh produsen yang dapat 'memaksakan' konsumen untuk membeli barang yang diproduksi oleh produsen.

Jadi ini adalah salah satu kelemahan sistem pasar bebas, yang dikenal dengan nama 'peng-agung-agungan konsumerisme'. Penamaan ini sebenarnya salah nama, sebab walaupun yang diusung tinggi dalam iklan-iklan adalah kata-kata 'Buy... Buy,.... Consume.... Consume...." fokus utama dari iklan ini adalah kekuatan produsen yang ternyata sudah melebihi kekuatan konsumen secara agregat.

Monday, September 21, 2009

Tentang Keuntungan

dari "Ten Points about Profit" - Martin Wolf

"Fourth, the idea that a company is an entity that can be freely bought and sold is culturally specific. It is the view, above all, of Anglo Americans. It is not shared in most of the rest of the world. The reason for this divergence is that, for many cultures, a company is viewed as being an enduring social entity.

I once read that, for many Japanese, one can no more sell a company over the heads of its workers than one can sell one's grandmother. In this view, goods and services can be bought and sold. Companies, like countries (or as we all now agree, people), must not be.

In this perspective, shareholders are not genuine owners. They contribute nothing of value to the competitive strenghts of the firm, enjoy the benefits of limited liability, and are well able to diversify the risks they run. They are merely an (ever shifting) group of people with a claim to the residual income. Those with the biggest (undiversifiable) investment in hte firm - and thus the greatest exposure to firm-specific risks- are not shareholders but core workers. The interest of the latter are, therefore, paramount.

Friday, September 18, 2009

Glasnot & Perestroika

Ringkasan dari Interview Jeffrey D. Sachs dengan Frontline, 1999

Di dalam panasnya perkembangan Reformasi dan Keterbukaan yang didengungkan Boris Yeltsin, Jeffrey D Sachs adalah salah satu penasihat ekonomi untuk Rusia. Sachs mendapat kesempatan istimewa untuk melakukan pengamatan mendalam dari posisinya ini.

Perubahan arah ekonomi yang sangat mengagumkan ini dimulai di tahun 1991-1992 dengan dibubarkannya Soviet Union. Dan menurut konsensus pasar bebas dan demokrasi, arah perubahan yang terjadi ini adalah awal yang sangat baik. IMF, World Bank, PBB, dan juga pemerintahan negara-negara lain tidak perlu ikut campur ataupun memberikan bantuan untuk memupuk demokrasi yang baik di negara-negara Rusia dan 14 negara baru yang dulunya merupakan bagian dari Soviet Union.

Mereka memerlukan dana untuk pembangunan, dan IMF maupun World Bank tentu mengerti. Namun konsep Invisible Hand Adam Smith yang dibawa ke titik ekstrim pada masa pemerintahan Reagan dan Thatcher jelas-jelas menunjukkan bahwa negara-negara baru tersebut sudah bebas dan bisa berupaya sendiri untuk mencari kesejahteraannya masing-masing. Tidak perlu ada campur tangan pemerintah dan lembaga ekonomi internasional. Pandangan filosofis ini dikenal dengan nama Washington Consensus.

"The washington consensus had a lot of merit in one sense. It did provide some sensible, broad ideas about how countries that were outside of the international system could become part of the international system. But it became a substitute for real thinking. It became a kind of mantra, a substitute for assistance, because the idea was 'You don't need us. You don't need any help. You don't even need a time-out on your debt payments. You just have to follow the magic rules, one through ten, and you'll be just fine.' So in this sense, everything became over simplified. The actions of the IMF and World Bank became very stylized. The US Treasury had its model, and unfortunately, at that level of simplicity, it just doesn't work."

Sachs menjelaskan bahwa rumus-rumus yang diterapkan konsensus washington tersebut lerlalu menyederhanakan masalah. Rumus tersebut menjadi mantra dan menggantikan akal sehat. Tidak ada tenggang waktu pembayaran hutang, tak ada bantuan, semuanya diserahkan kepada pasar bebas dan keberuntungan masing-masing negara. Walaupun secara garis besar Sachs menyetujui tujuan dan bentuk yang ingin dicapai dari rumus-rumus ekonomi tersebut, pada level pelaksanaan, rumus tersebut terlalu sederhana dan tidak akan dapat berjalan dengan baik.

Mantra yang didengungkan IMF adalah untuk membuka pasar bebas agar dapat ikut serta dalam sirkulasi ekonomi, termasuk juga pasar finansial. Ada banyak merit dari sistem ini, tapi bagaimana mengelola perubahaan tersebut menjadi terbuka juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan berintegrasi secara sukses dalam sistem internasional tersebut. The economy may need some tender loving care also, not just the so-called hard truths, if its going to succeed.

Dan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan dan budget pemerintah, mereka mulai membuka pasar obligasi pemerintah, obligasi swasta dan pasar saham. Hutang pemerintah dalam jumlah wajar dan yang dapat dimanage akan sangat bermanfaat. Masalah timbul sebab tanpa adanya sumber pendapatan yang stabil ataupun tanpa adanya dana bantuan dari lembaga internasional, maka hutang-hutang ini akan berubah menjadi masalah. Sumber-sumber pendapatan negara banyak berkurang karena perusahaan negara diubah dan diprivatisasi menjadi swasta. Korupsi dan upaya menghindari pembayaran pajak dari perusahaan yang telah diprivatisasi ini kemudian akhirnya memberatkan anggaran negara. Sumber pendapatan yang seharusnya diterima negara malah dicuri oleh para koruptor konglomerat yang sebenarnya diciptakan oleh pemerintah itu sendiri. Korupsi dalam proses privatisasi aset negara sudah sedemikian marak sampai-sampai akhirnya pemerintah terpaksa menggunakan dana hutang jangka pendek dengan bunga sampai 50% untuk memenuhi kebutuhan belanja negara.

"Those resources could have been turned to real money, to be used to pay pensions, to close the budget deficit, to keep inflation low, to get the reforms under way. But thye gave away those natural resources, and ended up instead relying on borrowing from international speculators and investors, at very high interest rates, on very short term debts"

Semakin lama, hutang jangka pendek (hot money) ini berkembang semakin besar dan membengkak sedemikian rupa hingga pembayaran bunga hutang pun sudah menjadi sedemikian berat. Anehnya, pasar finansial yang bebas ini justru masih mengucurkan dana-dana panas ke pasar finansial Rusia. Hedge Fund dan Fund Manager sudah kecanduan dengan keuntungan 50% yang begitu mudahnya di dapat dalam JANGKA PENDEK ini. Sampai akhirnya sistem keuangan Asia mendapat guncangan hebat di tahun 1997. Spekulasi mata uang Asia yang berakibat pada kasus-kasus gagal bayar (default) mulai bermunculan.

Fund Manager dan Bank yang tadinya berlomba-lomba meminjamkan uang ke Rusia akhirnya mulai merasa takut. Greed berubah menjadi Fear. Satu demi satu Dana Jangka PENDEK ini mulai ditarik. Tanpa adanya uang baru untuk menambal lubang hutang yang lama, Rusia dan juga Brazil yang berada pada kondisi yang sama akhirnya mulai runtuh. Eventually both of the collapsed.

"But in the short term, the International Community told both of them, 'Don't give up. Use your reserves. Defend the currency. Raise interest rates even higher.', which I think is the kiss of death for employment, for growth and so on. IMF, World Bank easily give this kiss of Death because Wall Street is getting the high interest rates. So already, in October 1997 both Russia and Brazil were on a collision course with history. I was amazed with the advice in Asia. I was amazed at the advice given to Russia and Brazil, because it was basically the same everywhere. 'Just raise those interest rates and keep paying the foreign investors, because that is what establishes confidence, after all. If need be, we'll give you the money to do it'."

Something have to be done, but nobody was doing anything, until the race car eventually hit the brick wall at full speed in a direct collision.

And how was all that started?
In early 1990's, when a lot of the developing world opened up to international capital flows, without the right kind of regulatory environment, and not understanding how vulnerable they would become to panics and euphoric waves of sentiment, they ended up with a tremendous amount of short term debt. Often they were invested in VERY good long term projects, but projects that weren't going to pay off for five or 10 or 20 years.

Tuesday, August 18, 2009

Wall Street, asal-usul jaman Dulu

Pada tahun 1792, di bawah pohon buttonwood (?), para pedagang-pelaut, penyedia dana dan peserta-peserta transaksi keuangan lainnya menyetujui untuk membuat suatu formalisasi lembaga pasar untuk membeli dan menjual saham dari perusahaan yang sedang berkembang, dan juga obligasi atau surat hutang dari perusahaan yang sedang membutuhkan dana.

Transaksi-transaksi sebelum ini sudah mulai terbentuk secara informal di sepanjang jalan yang dikenal sebagai wall street ini. Menurut sejarahnya, ratusan tahun sebelumnya daerah tersebut masih dalam wilayah kekuasaan Belanda. Gubernur yang memimpin daerah tersebut adalah Peter Stuyvesant. Dan untuk mencegah penyerangan suku indian amerika, pemerintah mendirikan tembok pertahanan.

Puluhan tahun kemudian, para pedagang dan penyedia dana berkumpul secara informal di sepanjang jalan yang berada dekat dengan tembok ini. Jalan inilah yang kemudian sampai sekarang dikenal dengan nama Wall Street.

Lembaga NYSE (New York Stock Exchange) sendiri baru terbentuk di tahun 1863, namun persepsi masyarakat selalu merujuk pada tahun 1792 dimana perjanjian buttonwood yang bertujuan untuk mencegah kekacauan dan manipulasi pasar dianggap sebagai dasar dan saat konsepsi dari NYSE ini.

Tuesday, August 4, 2009

Mungkin Menarik, "False Economy: A Surprising Economic History of the World"

Buku ini karangan Alan Beattie, editor Financial Times tentang pelajaran atau poin-poin yang dapat diperhatikan dari sejarah ekonomi negara-negara yang ada di dunia ini.

Menurutnya, baik Argentina maupun Amerika memiliki peluang yang sama untuk menjadi sukses secara ekonomi. Namun mengapa Amerika lebih maju sementara Argentina mengalami krisis ekonomi demi krisis ekonomi.

Berulang-ulang ia menyebutkan tesisnya bahwa suatu negara menjadi makmur bukan karena keberuntungan mereka. Negara yang beruntung memiliki alam, atau kandungan minyak maupun komoditas yang berlimpah ternyata tidak selalu merupakan negara makmur. Faktor penting yang menentukan menurutnya adalah pilihan yang diambil oleh pemimpin dan pilihan yang diambil oleh rakyat yang dipimpinnya.

Sumber alam malah sering menjadi kutukan dan bukannya berkat. Sumber alam hanya memberikan sedikit peluang pekerjaan bagi penduduk lokal. Pekerjaan lebih banyak dilakukan oleh orang-orang asing yang dipanggil untuk mengolah sumber daya tersebut. Hasil dan keuntungan dari pengerukan sumber daya alam tersebut masuk ke kantong perusahaan multinasional. Keuntungan yang tidak diambil oleh perusahaan multinasional tersebut banyak yang berakhir di rekening luar negeri dari para politikus dan bukannya memakmurkan rakyat umum. Namun tidak semua negara terperangkap dalam kutukan ini. Beatie memberi contoh bahwa Botswana mampu menjaga dirinya agar tidak jatuh dengan mengatur manajemen kekayaan berliannya, yang sangat berbeda dengan kekacauan yang disebabkan oleh berlian di Sierra Leone.

Buku ini mungkin menarik, menunjukkan bagaimana respons penduduk dan pemimpin lebih mempengaruhi kemakmuran negara daripada sumber daya alam yang dimilikinya. Respons apa yang baik serta respons apa yang perlu dihindari agar negara mencapai kemakmuran.

Sunday, August 2, 2009

Satu-satunya uang yang benar adalah Emas, Benar atau Salah? -Part3

Bretton Woods, Standar Emas, dan Kurs Mengambang

Dengan landasan inilah kita dapat melihat bahwa nilai intrinsik suatu mata uang sebuah negara sangat terkait dengan kemampuan, pengetahuan, dan produktifitas warga negara tempat digunakannya mata uang tersebut. Pada jaman era tahun 1945 pun logam masih memegang peran penting. Tanpa logam, pihak sekutu tidak akan mampu membendung ambisi jahat Hitler. Mesin-mesin perang semuanya memerlukan komponen logam yang sangat tinggi. Dan harus diakui pula bahwa kemampuan teknis dalam mengolah metal ini sudah sedemikian tinggi sehingga mereka dapat membuat gumpalan besi yang berat untuk terangkat dan terbang di udara. Dengan demikian wajarlah bila pada masa itu pemimpin dunia pasca perang dunia kedua mengambil kesepakatan Bretton Woods, yaitu untuk kembali mematok seluruh mata uang dunia kepada emas.

Kesepakatan Bretton Woods ini mematok tetap mata uang seluruh negara-negara dunia dengan dollar Amerika (fixed exchange rate). Sementara di saat yang sama, kurs dollar Amerika juga dipatok tetap dengan emas, yakni $35 untuk tiap ounce emas. Ini berarti secara keseluruhan seluruh penduduk dunia menggunakan emas sebagai standar uang pada saat itu.

Kesepakatan ini diambil karena pada akhir masa perang dunia ke-dua tersebut hanya Amerikalah yang memiliki jumlah emas terbanyak di dunia. Negara Inggris, Jerman, Prancis dan Rusia, semuanya telah menggunakan seluruh emas mereka untuk mendanai perang. Negara Inggris memiliki banyak hutang akibat banyaknya persenjataan yang mereka impor dari Amerika. Demikianlah sebagian besar emas dunia berakhir di tangan Amerika.

Dengan menurunnya persediaan emas di negara-negara lain tersebut, baik Inggris maupun Jerman akan sangat mudah tergoda untuk mencetak uang untuk membayar hutang-hutang mereka tersebut. Pada bab-bab berikutnya akan kita bahas bagaimana pencetakan uang yang berlebihan dapat membawa kehancuran ekonomi negara. Demikianlah kurs mata uang seluruh negara-negara penandatangan kesepakatan Bretton Woods dipatok dengan kurs tetap terhadap dollar Amerika, yang secara efektif berarti juga dipatok tetap terhadap emas. Keputusan ini dicapai oleh negara-negara pendukung Bretton Woods untuk menghindari terjadinya inflasi tak terkendali di negara mereka akibat pencetakan uang yang berlebihan.

Jadi dari situasi ini kita dapat menelusuri bahwa ada kaitan sejarah yang menyebabkan timbulnya pepatah bahwa emas adalah uang yang benar. Dalam sistem Bretton Woods setelah perang dunia kedua, maka pepatah ini adalah benar. Namun harus diingat pula bahwa pada tahun 1971, pemerintah Amerika melepaskan kaitan mata uangnya dengan emas yang artinya saat ini nilai intrinsik uang sudah bukan lagi dibatasi oleh nilai intrinsik emas.

Dalam kondisi kurs dollar yang dipatok dengan emas, perbaikan ekonomi baik di Jerman maupun Ingris dan negara lainnya mengakibatkan peningkatan ekspor dari negara-negara tersebut ke Amerika. Ekspor tersebut akan mengakibatkan mengalirnya dollar Amerika ke negara mereka. Uang dollar yang mereka terima ini tidak digunakan untuk melakukan transaksi di negara tersebut, yang artinya uang tersebut hanya diam menganggur dan tak dapat digunakan. Akibatnya dollar yang mereka terima dari Amerika lalu dikonversikan dengan segera menjadi emas. Arus pengeluaran emas ini sangat besar sampai-sampai stok emas yang dimiliki Amerika menurun dengan drastis. Puncak arus keluar ini terjadi di tahun 1971, dimana kebutuhan pendanaan perang Vietnam yang besar dan anggaran negara yang defisit mengakibatkan jumlah uang dollar yang beredar di pasar menjadi sedemikian besar dan stok emas yang tersedia tidak lagi mencukupi untuk mengkonversi seluruh jumlah uang yang beredar. Akibatnya Amerika pun memutuskan untuk menghentikan kebijakan kurs dollarnya yang dipatok kepada emas. Kesepakatan Bretton Woods pun kemudian berakhir, dan kurs dollar Amerika mengambang bebas terhadap emas.

Kita dapat mengambil kesetaraan kasus Amerika ini dengan mata uang Rupiah Indonesia. Dollar Amerika yang dilandasi oleh emas ternyata mengalami kesulitan dalam mengkonversi seluruh uang dollarnya menjadi emas. Tidak ada cukup emas yang dimiliki Amerika untuk mengkonversi semua uang dollarnya. Situasi ini sama dengan mata uang Rupiah yang nilainya selalu diupayakan stabil dengan dollar Amerika. Masalahnya pun sama, yakni bahwa negara Indonesia tidak memiliki cukup banyak dollar Amerika untuk dapat mengkonversikan seluruh uang Rupiah yang ada beredar di masyarakat.

Akibatnya jelas, sama seperti pemerintah Amerika yang melepaskan patokannya kursnya ke emas, demikian pulalah Indonesia telah melepaskan patokan nilai Rupiahnya terhadap dollar Amerika. Namun bila ada satu hikmah yang dapat kita ambil, dengan melihat bahwa Amerika masih bisa terus maju walaupun ia harus melepaskan patokan uangnya dengan emas, kita pun perlu berbesar hati bahwa perekonomian Indonesia masih bisa maju walaupun kurs Rupiah dengan Dollar Amerika sering bergejolak tidak menentu.

Secara prinsip, nyaris tak ada alasan kuat yang menyatakan bahwa emas adalah suatu kebutuhan utama yang tak dapat dihindarkan. Nilai intrinsik emas terdapat pada keindahan dan daya tahan karatnya. Nilai intrinsik ini sudah tidak lagi mampu mendukung perkembangan produktifitas seluruh masyarakat. Kemampuan pengolahan metal sudah bukan lagi berada di garis terdepan kemajuan teknologi. Manusia memang memerlukan logam untuk membangun roket untuk terbang ke bulan, tapi logam itu sendiri tidak sanggup membuat roket tersebut melesat ke bulan. Pengetahuan pengobatan dan genetika mahluk hidup sudah maju melebihi standar 30 tahun yang lalu, dan kemampuan ini tidak berdasar pada kemampuan pengolahan logam. Produktifitas manusia dan masyarakat sudah tidak dapat lagi diukur dengan menggunakan logam. Jumlah logam di dalam bumi ini tidak cukup untuk merepresentasikan daya produksi seluruh masyarakat.

Tingginya harga emas saat ini lebih diakibatkan oleh ingatan jangka panjang manusia yang menganggap kepemilikan emas sebagai bentuk pencapaian tertinggi. Sampai sekarang pun masih banyak orang yang bernostalgia dan rupanya ingin kembali lagi menerapkan sistem Bretton Woods dengan standar uang emasnya. Seharusnya jika banyak orang mulai melepaskan ketergantungannya atas emas, agregat permintaan atas logam emas akan turun drastis. Emas akan lebih banyak digunakan sebagai perhiasan atau karena karakteristik konduksi listriknya yang baik. Pepatah yang menyatakan bahwa uang yang sebenarnya adalah emas seharusnya sudah tidak berlaku lagi.

Krisis ekonomi dan resesi ekonomi membawa ingatan masyarakat pada sistem ekonomi kuno yang menggunakan emas sebagai alat tukar. Jika krisis ini dapat kita tepis dan perekonomian tidak lagi mundur ke kondisi ekonomi terbelakang, permintaan atas emas seharusnya akan turun dan harga pun akan kembali merefleksikan nilai intrinsik logamnya, dan bukannya fungsi emas sebagai alat pembayaran.

Menentukan nilai intrinsik mata uang sebuah negara tentu tidak semudah menentukan nilai intrinsik emas. Nilai intrinsik emas jelas lebih mudah diketahui sebab besarannya dapat diketahui. Misalnya saja dengan mengukur beratnya, atau juga kemurnian atau besaran karat dari emas tersebut. Namun toh harga yang diberikan atas nilai intrinsik ini bisa bergerak naik turun seiring dengan besarnya penawaran dan besarnya permintaan atas emas. Satu ounce emas yang sama bisa berharga $800 di satu saat sementara di saat lain harganya malah cuma $400. Maka sungguh sangat mustahil bila ada beberapa pihak yang misalnya mengklaim nilai mata uang suatu negara harusnya cuma sebesar ini atau itu karena seseorang tersebut dapat menentukan nilai intrinsik mata uang negara tersebut.

Menentukan nilai intrinsik mata uang sebuah negara adalah sangat sulit, bahkan bisa dibilang mustahil dilakukan. Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi nilai intrinsik suatu mata uang, mulai dari situasi politik negaranya, tingkat kriminalitas, kemacetan, kebersihan lingkungan, kesegaran udara dan airnya, kestabilan pasokan listriknya, tingkat pendidikan seluruh penduduk, terobosan inovasi yang berhasil dikembangkan di negara itu, bahkan juga tingkat kepercayaan konsumen atas perkembangan situasi ekonomi. Jadi bagaimana mungkin kita dapat menentukan nilai intrinsik suatu mata uang jika ada begitu banyak komponen yang mustahil kita telusuri satu demi satu. Jangan kata berbicara tingkat kepercayaan ataupun situasi politik, bila kita berfokus hanya pada sektor ekonomi pun, ada begitu banyak variabel tak terukur yang berpotensi menentukan nilai intrinsik mata uang negara. Banyak ekonom yang kesulitan mengukur produktifitas sektor jasa sebab produk yang dihasilkannya bukanlah barang tangible, melainkan servis yang sifatnya intangible. Bagaimanakah kita bisa mengukur efektifitas salon yang membuat orang “merasa” lebih cantik, atau lebih “merasa lebih bahagia”? Apakah yang bisa kita gunakan untuk mengukur kebahagiaan?

Jadi kita simpulkan bahwa berdasar sejarah emas memang sempat populer sebagai bentuk uang. Namun mata uang suatu negara seharusnya lebih menunjukkan kapasitas ekonomi negara tersebut. Mengukur nilai intrinsik mata uang suatu negara adalah sangat sulit. Solusi cepat yang dapat diberikan ekonom untuk masalah ini adalah dengan melemparkannya kepada pasar, agar “pasar” menentukan nilai mata uang tersebut. Pasar yang dimaksud adalah suatu kumpulan kolektif dimana seluruh partisipan membentuk harga dengan memasang order beli dan jual untuk mencari nilai keseimbangan atau ekuilibrium harga. Jadi dari sistem ini kemudian didapatlah suatu harga, misalnya untuk membeli 1 USD diperlukan Rp 10.000, atau untuk membeli 1 EUR diperlukan 1,4 USD.

Satu-satunya uang yang benar adalah emas, Benar atau Salah? - 2

Emas menjadi uang

Pada sistem ekonomi yang sangat primitif, transaksi barter sudah dapat mencukupi untuk mengakomodasi kebutuhan seluruh penduduk desa tersebut. Seiring dengan meningkatnya jumlah peserta ekonomi yang bertransaksi, mereka akan mendapati bahwa beberapa barang tertentu lebih mudah dipertukarkan dengan barang lainnya, atau dengan kata lain lebih likuid. Diantara beberapa barang yang likuid untuk dibarterkan tersebut, ada barang yang mudah menjadi busuk sementara barang lainnya tahan lama. Sementara barang jenis satu lebih mudah dibagi menjadi unit yang lebih kecil dibandingkan dengan barang jenis lainnya yang tak bisa dibagi.

Dengan semakin banyaknya transaksi akhirnya didapatilah bahwa logam akhirnya muncul sebagai barang yang paling mudah digunakan untuk bertransaksi, dan dengan demikian secara faktual berubah fungsi menjadi alat pembayaran transaksi.

Kita bisa berbicara dan menganalisa tentang alasan sejarah mengapa emas dipilih sebagai uang. Atau pula kita bisa mengemukakan alasan filosofis tentang betapa mulianya uang tersebut, dan bahwa warna keemasan logam adalah serupa dengan warna matahari. Bisa saja kita kemukakan teori bahwa pada jaman dahulu, emas dipilih karena dianggap merupakan bahan yang sama dengan material pembentuk matahari. Namun pada akhirnya bila kita dihadapkan pada pilihan tentang apa yang perlu digunakan untuk menjadi uang, maka hanya ada satu pertimbangan terpenting yang harus dilakukan dalam menentukan pemilihan ini.

Yang harus kita perhatikan dan kita beri bobot terbesar dalam menentukan pilihan adalah pertanyaan “seberapa luaskah mata uang ini diterima di masyarakat?” Akan sangat sulit bagi kita untuk mencari titik awal atau kebudayaan mana yang memulai penggunaan mata uang emas. Kita bisa berspekulasi barangkali pola ini diawali oleh seorang raja yang terpesona dengan kemilau emas sehingga raja tersebut meminta pajak emas dari rakyatnya. Ataukah mungkin dari para pedagang dan pelaut yang memandang tinggi nilai emas ini karena logam ini tidak berkarat, walaupun selalu basah terkena udara laut. Sekali lagi semua itu hanyalah teori. Yang jelas, setiap orang didunia ini pasti menggunakan suatu mata uang tertentu karena pengaruh orang-orang disekitarnya. Suatu komunitas yang sama akan menggunakan uang yang sama.

Mari kita lihat, dimanapun juga seseorang dilahirkan, maka dapat dipastikan ia akan menggunakan mata uang daerahnya itu untuk pertama kalinya. Kita yang lahir di Indonesia akan menggunakan Rupiah, sementara Hillary Clinton menggunakan Dollar Amerika. Penduduk Mesir jaman purba dulunya menggunakan uang tanah liat, sementara penduduk Inggris menggunakan uang Pundsterling. Dalam pilihan perdagangan internasional pun prinsip yang sama kemudian berlaku. Bila kita bertanya mengapa kita menggunakan pembayaran dollar untuk barang-barang ekspor dan impor negara kita, maka jawaban yang jelas adalah bahwa karena dunia internasional sebagian besar menggunakan mata uang dollar (Amerika) tersebut.

Jadi demikianlah maka penggunaan emas, perak, ataupun tembaga sebagai uang adalah suatu lingkungan operasi yang sudah berlangsung secara alami (a given environment), suatu hasil dari suatu proses pemilihan yang panjang. Karena itulah para ekonom kemudian selalu membahas teorinya tanpa menyebutkan apakah ekonomi tersebut menggunakan uang ataukah masih bersifat barter, ataukah jenis uang apa yang digunakan dalam perekonomian yang dibahasnya.

Teori ekonomi selalu didasari pada kondisi dimana transaksi dengan uang itu sudah berjalan dan sistem ini sudah menggunakan uang (emas/logam) sebagai mata uang pilihan. Negara, masyarakat, ataupun individu yang ingin melakukan transaksi ekonomi dan jual beli, mau tidak mau harus menceburkan diri dalam sistem yang menggunakan uang emas ini. Jadi walaupun secara pribadi seseorang berpendapat bahwa emas tidak memiliki nilai intrinsiknya sendiri, jika ia memiliki kebutuhan yang perlu dibayar dengan emas kepada masyarakat (misalnya ke dokter atau membeli mobil), maka ia juga harus mengumpulkan emas untuk nantinya dibelanjakan.

Dari sini kita bisa mengetahui dan mengambil kesimpulan bahwa uang adalah produk komunitas, dimana dengan uang seseorang dapat melakukan interaksi ekonomi dengan anggota masyarakat lain. Tidaklah heran kemudian bila prinsip-prinsip keberhasilan bisnis yang paling mendasar adalah berkaitan dengan prinsip untuk membangun hubungan baik. Misalnya membina hubungan yang baik dengan pemasok, membina hubungan dan memperhatikan pelanggan, semuanya itulah yang menjadi dasar sukses dari perusahaan-perusahaan besar. Kita contohkan saja SAP, perusahaan program komputer ini berupaya mengatur interaksi antar departemen seefisien mungkin dengan menganggap departemen satu sebagai pelanggan departemen (cabang) lainnya. Bahkan dalam era internet juga telah dikembangkan sistem-sistem yang berupaya untuk mengerti karakteristik pasar (konsumen) agar perusahaan dapat menyediakan produk-produk yang lebih baik lagi.

Selain alasan bahwa uang emas sudah luas diterima dan digunakan masyarakat, ada pula alasan lain yang mendukung penggunaan emas (secara historis) sebagai substansi uang. Pertama karena logam itu sulit didapat, dan juga karena emas dapat dipecah menjadi unit yang besar kecilnya dapat disesuaikan. Logam, terutama emas sangat tahan lama dan kualitasnya tidak berubah atau berkarat. Keindahan dan kemilau emas yang memukau, ditambah lagi dengan karakteristiknya yang tahan karat ini kemudian membuat emas dan logam mulia lainnya memiliki nilai lebih tinggi dari logam lainnya.


Emas/Logam adalah produk teknologi termoderen pada jaman dahulu
Dengan pengetahuan dasar yang kita miliki saat ini, kita sering terkagum-kagum dengan produk emas ataupun logam yang dihasilkan dari pertambangan. Sungguh sulit dimengerti bagaimana puluhan ton tanah bercampur bijih besi ataupun bijih logam (iron ore) dapat dipisahkan dari tanah tersebut. Bila kita bisa memahami kompleksitas proses penyaringan dan pemurnian logam dan betapa tingginya teknologi dan pengetahuan yang diperlukan untuk mendapatkan satu kilogram logam, maka kita akan maklum mengapa komunitas purba kemudian memilih logam sebagai material penting yang dapat ditukarkan dengan hampir segala macam barang. Karena banyaknya permintaan masyarakat atas logam inilah maka emas atau logam-logam ini kemudian berubah fungsi menjadi uang.

Demikianlah maka dapat diteorikan bahwa alasan utama dipilihnya logam menjadi alat pembayaran adalah karena kemampuan mengolah logam dan menambang logam dari perut bumi adalah bentuk teknologi yang paling muktahir dari masyarakat tersebut. Teknologi ini begitu bermanfaat dan sangat dibutuhkan oleh banyak manusia sehingga logam yang dihasilkan tersebut mudah diterima masyarakat untuk ditukarkan dengan barang-barang kebutuhan lainnya.

Jadi argumentasi inilah yang kiranya tepat menjadi jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan di awal bab satu ini. Kita bisa jawab bahwa pada jaman dahulu, memang benar emas merupakan suatu bentuk uang yang sangat unggul sehingga dalam banyak kasus emas inilah yang menjadi uang yang benar. Ini tidak berarti emas adalah satu-satunya uang yang benar. Kita bisa membawa emas ini pada jaman kerajaan Mesir yang sedang dilanda kelaparan. Lalu kita bisa bertanya, uang manakah yang lebih benar, manakah yang nilainya lebih kuat? Apakah tanah liat yang ekuivalen dengan gandum, ataukah emas yang lebih tahan lama dan berteknologi tinggi? Jika kita telaah dari catatan kitab suci tentang nabi Yunus, disebutkanlah bahwa peternak maupun pedagang semuanya menyerahkan emas perak dan kepunyaannya untuk memperoleh gandum di jaman kekeringan tersebut. Ini berarti pada saat itu, gandum/uang tanah liat tersebut memiliki nilai permintaan yang lebih kuat dan uan tanah liat tersebutlah yang dikenal sebagai uang yang benar.

Demikianlah uang bisa dibuat dalam berbagai macam bentuk dan substansi. Dan untuk mengetahui benar tidaknya, atau kuat tidaknya uang tersebut, yang terpenting adalah mengetahui nilai apa yang terkandung di dalam uang tersebut serta situasi kondisi yang membuat timbulnya permintaan atas suatu bentuk uang tertentu.

Satu-satunya uang yang benar adalah emas, Benar atau Salah? - 1

Emas adalah uang, benarkah?

(Apa yang membuat emas menjadi uang, dan apa yang membuat uang kertas menjadi uang juga?)


Apa yang kita terima sejak lahir seolah-olah sudah menjadi sesuatu yang biasa. Misalnya saja sejak lahir sebagian kita selalu menggunakan uang kertas atau melakukan transfer uang lewat bank sebagai metode pembayaran dan transaksi ekonomi. Namun bila kita telusuri lebih dalam, seringkali bisa kita dapati bahwa suatu keadaan yang kesannya alami ternyata adalah hasil dari sebuah proses yang panjang. Demikianlah pula dengan masalah uang. Kita bisa bertanya, mengapakah kita perlu menggunakan uang untuk membeli ini dan itu? Dan mengapa pula kurs uang rupiah kita selalu dihubung-hubungkan dengan dollar Amerika? Kenapa pula uang itu berbentuk kertas, dan kenapa juga kita tidak dapat mencetaknya sendiri?

Dari catatan sejarah lah kita bisa belajar bahwa uang seperti yang kita kenal sekarang ini tidaklah selamanya berbentuk uang kertas yang kita ketahui sekarang. Mungkinkah kita bisa mendapatkan suatu penjelasan atas pertanyaan tersebut dari sejarah perkembangan uang?

Kita semua jelas tahu bahwa sejarah mencatat tentang digunakannya emas sebagai alat pembayaran (uang). Dalam pikiran banyak generasi muda, kata emas hanyalah berbicara tentang perhiasan, keindahan, dan aksesoris atau bahan logam pelengkap busana dan lambang kekayaan. Tak pernah tercetus dalam pikiran untuk membayarkan semangkuk bakso kuah dengan menggunakan secuil emas. Apa perlunya kita bersusah payah mengukur berat emas di timbangan bila ada selembar uang kertas dengan angka Rp5.000 yang dapat digunakan untuk membayarkannya. Namun banyak pepatah dalam bidang keuangan dan pasar modal yang justru mengatakan bahwa mata uang yang benar adalah emas. Apakah dengan demikian kita sudah menipu pedagang bakso dengan membayarkan uang kertas 5000 rupiah dan bukannya dengan setengah gram emas? Ataukah pepatah ini hanya merupakan sisa-sisa sejarah yang sudah tidak relevan lagi di jaman modern ini?

Beberapa contoh komunitas yang tidak menggunakan uang emas.

Penelitian arkeologi mendapati bahwa uang dapat mengambil berbagai bentuk. Ada budaya yang menggunakan bulu angsa sebagai uang. Ada pula bangsa yang menggunakan cangkang kerang laut sebagai uang. Sementara budaya lainnya menggunakan kepingan tanah liat sebagai uang. Yang dimaksud dengan uang dalam hal ini adalah alat tukar dalam transaksi ekonomi.

Penelitian arkeologi mesir kuno mendapatkan bahwa masyarakat jaman itu menggunakan kepingan tanah liat sebagai alat transaksi ekonomi. Kepingan tanah liat ini adalah tanda terima penyimpanan gandum di Mesir. Berarti setiap keping uang tersebut memiliki landasan nilai yang didukung oleh nilai gandum. Kepingan tanah liat itu sendiri sebenarnya tidak ada harganya. Bila hubungannya dengan nilai gandum itu dipisahkan, sekeping tanah liat adalah sekeping tanah liat yang tak berharga. Namun rupanya masyarakat Mesir menggunakan kepingan itu sebagai uang dengan memberikan nilai gandum pada kepingan tersebut. Pemegang kepingan tanah liat tersebut dapat menukarkannya dengan gandum ke gudang Firaun. Diperkirakan bahwa sistem uang yang seperti ini tercipta karena adanya masa-masa kemarau yang panjang, bahkan ada kemungkinan dimulai sejak jaman Nabi Yusuf di Mesir yang telah mampu mengatur 7 tahun kelimpahan dan menyimpankan gandum-gandum tersebut untuk mengantisipasi 7 tahun kelaparan.

Penduduk yang memang membutuhkan gandum untuk makan tentu dapat menukarkan kepingan tanah liat ini dengan gandum yang disimpan di gudang Raja Mesir. Namun bila ia memiliki gandum yang berlebih, orang tersebut dapat menukarkannya dengan barang atau jasa lain dari pedagang-pedagang Mesir lainnya. Dan karena situasi kelaparan dan kekeringan inilah, kepingan tanah liat ini (lebih tepatnya lagi gandum yang menjadi dasar nilainya), sudah berubah menjadi substansi yang sangat berharga di masyarakat.

Sementara itu pula Hughes dalam bukunya (“Good Money after Bad: Inflation and devaluation in the colonial process” -1978) mencatat bahwa kerang pantai digunakan sebagai alat pembayaran oleh suatu suku penduduk pedalaman New Guinea. Cangkang kerang yang indah ini disediakan oleh penduduk pesisir pantai, kemudian mereka membawanya ke atas gunung untuk ditukarkan dengan barang-barang yang diproduksi oleh penduduk pedalaman New Guinea.

Lalu datanglah pedagang Eropa dan Tentara Eropa yang di tempatkan di pedalaman untuk menahan serbuan Jepang pada masa Perang Dunia ke-2. Mereka menemukan bahwa cangkang kerang tersebut berarti uang. Mereka kemudian meminta bantuan logistik dan tenaga kerja dari suku tersebut dan membayarkannya dengan cangkang kerang juga. Catatan pengiriman dan pengapalan kerang yang dikirimkan dari Inggris dan Australia ke pegunungan New Guinea pada masa itu menunjukkan bahwa kerang-kerang tersebut digunakan untuk membayar gaji penduduk pribumi tersebut.

Dengan satu biji kerang putih, penduduk desa tersebut bersedia untuk bekerja selama satu bulan penuh. Sementara jenis kerang lain, yakni kerang mutiara dan kerang keemasan dianggap lebih berharga dari kerang putih. Dari antara semuanya, kerang emaslah yang memiliki nilai tertinggi. Dicatat pula bahwa celeng hutan memiliki harga yang sangat tinggi bagi penduduk New Guinea tersebut. Barangkali bisa kita bandingkan dengan satu suku di Indonesia yang memandang kerbau sebagai bentuk kekayaan yang sangat tinggi, sampai-sampai mereka menggunakan kepala kerbau tersebut sebagai ornamen rumah untuk menunjukkan status. Untuk celeng hutan ini, penduduk New Guinea tersebut memerlukan setidaknya segenggam penuh kerang atau berarti beberapa bulan kerja untuk dapat membelinya.

Ada satu kesimpulan menarik dari catatan pengiriman kerang yang dikapalkan oleh Inggris/Australia ini. Semakin lama Inggris berhubungan dengan suku tersebut semakin banyak perdagangan yang terjadi. Namun jumlah uang yang diperlukan untuk membeli barang-barang tersebut akhirnya juga semakin banyak. Fenomena ini dikenal sekarang dengan nama inflasi. Yang tadinya hanya memerlukan satu kontainer kerang untuk menyiapkan suplai selama satu periode akhirnya bertambah menjadi dua kontainer. Penyebabnya adalah karena jumlah uang yang sampai ke pedalaman itu ternyata meningkat banyak akibat kedatangan orang-orang Inggris tersebut. Peningkatan ini jauh melebihi arus normal pertambahan kerang yang dulunya hanya disediakan oleh penduduk pesisir pantai New Guinea tersebut.

Bila dibandingkan dengan uang cangkang kerang dan lempengan tanah liat, maka penggunaan logam emas sebagai mata uang pembayaran sudah lebih umum digunakan di banyak masyarakat. Tidak ada yang tahu pasti kapan dimulainya penggunaan emas ini sebagai uang. Kitab suci mencatat bahwa emas sudah ada dan digunakan sebagai perhiasan di jaman Nabi Musa di Mesir, namun tidak jelas apakah emas ini pula sudah digunakan sebagai uang.