Bisa menarik hubungan gak antara hubungan ilmu kemacetan jalanan dengan ekonomi? Lalu dimana letaknya semut dan belalang/jangkrik pada ilmu2 tersebut?
Sedikit ilmu menarik tentang jalanan yang macet. Di kisahkan belalang jika jalan sendiri-sendiri sifatnya ramah, pergi menghindar dari predator (shy) dan tidak agresif. Yang penting, mereka tidak berusaha untuk mendekat/menjadi sosial bergabung dengan belalang lain. Namun ketika musibah kekeringan melanda, jumlah makanan yang tersedia buat belalang menjadi sedikit sehingga banyak belalang mulai berkumpul ke satu daerah tersebut. Makin lama gerombolan belalang semakin besar dan mencapai jumlah kritikal. Sifat belalang yang tadinya berusaha menghindari belalang lain akhirnya berubah, mereka menjadi satu grup yang umumnya bergerak secara bersama-sama, dan gesekan sayap satu dengan lainnya dan kaki belalang satu dengan lainnya akan membuat mereka berubah menjadi agresif. Perlu diketahui bahwa belalang yang di depan umumnya akan memperoleh makanan lebih dahulu, dan belalang yang di belakang akan kehilangan makanan karena seluruh tanaman di depannya sudah dimakan oleh belalang barisan depan.
Perilaku serupa juga ditemukan pada spesies jangkrik Mormon (anabrus simplex) di tahun 1848. Demikanlah maka demi mempertahankan hidupnya, jangkrik tak bersayap ini menunjukkan perilaku yang sangat agresif. Jangkrik yang ada di belakang ternyata berubah menjadi kanibal. Mereka berusaha bergerak dan melahap (memakan) jangkrik yang ada di depannya, sambil pada saat yang sama berupaya untuk menghindar dari jangkrik yang ada di belakangnya.
Perilaku jangkrik ini ternyata mirip dengan perilaku manusia dalam mengemudi di jalan. Di kehidupan sehari-hari, si A orangnya sangat ramah, senang membantu dan toleransi tinggi. Tapi begitu ia masuk ke dalam mobil, perilakunya berubah. Ia tidak pernah menyapa pengemudi di sebelahnya saat sedang berhenti di lampu merah, ia marah dengan pengendara sepeda motor di depannya, ia marah dengan pak polisi yang menyuruhnya berhenti, dan juga marah karena terjebak dalam kurungan mobil-mobil lainnya di jalan. Kalau tidak ada hukum yang melarangnya menerobos atau bahkan melindas mobil di depannya agar ia bisa lewat, tentu semua mobil akan berubah menjadi tank atau mobil dengan ban raksasa agar ia bisa lebih mudah melewati mobil di depannya (perilaku kanibalistik pengemudi).
Perilaku semut dalam hal mengatur lalu lintas gerak satu semut dengan semut lainnya ternyata sangat berbeda. Semut yang buta akan mengandalkan pada runutan zat kimia yang dilepaskan semut di depannya untuk mencari makanan. Jadi banyak semut bergerak dalam satu jalan. Satu jalan ini berfungsi juga untuk menuntun semut-semut tersebut kembali ke sarangnya (dua arah). Penelitian menunjukkan bahwa semut yang keluar sarang umumnya bergerak di jalur luar (kanan-kiri), sementara semut yang kembali ke sarang bergerak di jalur dalam (ada tiga lajur yang bisa diikuti semut). Dan perbedaan yang sangat besar dalam kasus semut ini adalah sifat agresif yang tidak ada pada lalu lintas semut. Mereka bergerak dalam jalur bersama yang sifatnya kooperatif, bukannya kanibalistis (kompetitif). Sifat ini berbeda dengan sifat gerombolan jangkrik tersebut.
Pengetahuan semacam inilah yang kemudian mengilhami beberapa teknik pengaturan jalan raya. Mobil satu dengan lainnya selalu diusahakan untuk bergerak dengan sifat semut, dan berusaha menghilangkan sifat jangkriknya. Jalanan teratur dimana mobil satu dengan lainnya tidak berusaha saling menyalip (namun dengan teratur menunggu giliran --- Prinsip NGANTRI yang TERATUR) ternyata didapati membuat jalanan lebih lancar dan nyaman (tentunya terbatas dengan kapasitas lebar jalannya juga). Lampu-lampu merah yang sifatnya kritikal diusahakan untuk menggunakan program software real time yang bisa mengatur pemenuhan permintaan (mobil ngantri) dan supply (lampu hijau). Di negara maju, mereka menggunakan induksi magnetis (ada garis bentuk kotak di jalan yang bisa membaca jumlah mobil yang lewat di kotak tersebut).
Bagaimana hubungannya dengan ekonomi? Susah juga, soalnya saya agak maksa-maksain... he..he...
Tapi model locust/jangkrik adalah model ekonomi pasar bebas yang sifatnya kompetisi. Model semut adalah model ekonomi sosialis. Kedua-dua jenis spesies ini merupakan spesies tangguh yang sudah lewat proses seleksi alam ribuan juta tahun (buat yang percaya teori evolusi), atau setidaknya masih bisa bertahan hidup sampai saat ini sejak penciptaannya. Kalau kita ini jangkrik, kita tidak punya pilihan selain bersifat seperti jangkrik yang kompetitif tersebut. Kalau kita semut, kitapun tidak punya pilihan lain selain bertingkah laku seperti semut. Namun sebagai manusia, kita bisa belajar dari semut maupun jangkrik ini dan mengambil kebaikan yang mereka tunjukkan.
Prinsip kompetisi kapitalis memang sudah membawa umat manusia pada kesejahteraan dan perkembangan taraf hidup yang lebih baik. Namun jika gerakan manusia yang agresif seperti jangkrik ini adalah hama atas lingkungan hidup (kehancuran spesies lain, banyak rakyat kecil yang di kanibalistikkan, tanaman dan hutan yang tidak bisa direboisasi lagi), barangkali sudah saatnya kita mulai mencontoh semut yang bergerak teratur dan bekerja sama agar suatu tujuan bersama bisa dicapai. Menjaga kelestarian hutan adalah bentuk melindungi sumber air (sungai) manusia. Dan kita perlu air. Kiranya kita bisa menghindari bertingkah laku seperti jangkrik yang membabat habis tanaman di depannya sehingga kita tidak kehilangan sumber air bersih yang kita butuhkan sendiri. Kiranya juga kita tidak terlalu bergantung dengan energi yang ternyata membuat suhu udara semakin panas dan akhirnya mengubah siklus alam dan iklim. Apakah kita bisa? Entahlah, kalau kita ini jangkrik, barangkali kita tidak bisa. Tapi kalau kita ini manusia beradab, mustinya kita bisa...
Jika lain kali ada pengemudi yang ugal-ugalan di jalan, tentunya anda punya penjelasan ilmiah terhadapnya jika anda berteriak.... "JANGKRIK... LOE".... ha...ha.. ha...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment