Bisa menarik hubungan gak antara hubungan ilmu kemacetan jalanan dengan ekonomi? Lalu dimana letaknya semut dan belalang/jangkrik pada ilmu2 tersebut?
Sedikit ilmu menarik tentang jalanan yang macet. Di kisahkan belalang jika jalan sendiri-sendiri sifatnya ramah, pergi menghindar dari predator (shy) dan tidak agresif. Yang penting, mereka tidak berusaha untuk mendekat/menjadi sosial bergabung dengan belalang lain. Namun ketika musibah kekeringan melanda, jumlah makanan yang tersedia buat belalang menjadi sedikit sehingga banyak belalang mulai berkumpul ke satu daerah tersebut. Makin lama gerombolan belalang semakin besar dan mencapai jumlah kritikal. Sifat belalang yang tadinya berusaha menghindari belalang lain akhirnya berubah, mereka menjadi satu grup yang umumnya bergerak secara bersama-sama, dan gesekan sayap satu dengan lainnya dan kaki belalang satu dengan lainnya akan membuat mereka berubah menjadi agresif. Perlu diketahui bahwa belalang yang di depan umumnya akan memperoleh makanan lebih dahulu, dan belalang yang di belakang akan kehilangan makanan karena seluruh tanaman di depannya sudah dimakan oleh belalang barisan depan.
Perilaku serupa juga ditemukan pada spesies jangkrik Mormon (anabrus simplex) di tahun 1848. Demikanlah maka demi mempertahankan hidupnya, jangkrik tak bersayap ini menunjukkan perilaku yang sangat agresif. Jangkrik yang ada di belakang ternyata berubah menjadi kanibal. Mereka berusaha bergerak dan melahap (memakan) jangkrik yang ada di depannya, sambil pada saat yang sama berupaya untuk menghindar dari jangkrik yang ada di belakangnya.
Perilaku jangkrik ini ternyata mirip dengan perilaku manusia dalam mengemudi di jalan. Di kehidupan sehari-hari, si A orangnya sangat ramah, senang membantu dan toleransi tinggi. Tapi begitu ia masuk ke dalam mobil, perilakunya berubah. Ia tidak pernah menyapa pengemudi di sebelahnya saat sedang berhenti di lampu merah, ia marah dengan pengendara sepeda motor di depannya, ia marah dengan pak polisi yang menyuruhnya berhenti, dan juga marah karena terjebak dalam kurungan mobil-mobil lainnya di jalan. Kalau tidak ada hukum yang melarangnya menerobos atau bahkan melindas mobil di depannya agar ia bisa lewat, tentu semua mobil akan berubah menjadi tank atau mobil dengan ban raksasa agar ia bisa lebih mudah melewati mobil di depannya (perilaku kanibalistik pengemudi).
Perilaku semut dalam hal mengatur lalu lintas gerak satu semut dengan semut lainnya ternyata sangat berbeda. Semut yang buta akan mengandalkan pada runutan zat kimia yang dilepaskan semut di depannya untuk mencari makanan. Jadi banyak semut bergerak dalam satu jalan. Satu jalan ini berfungsi juga untuk menuntun semut-semut tersebut kembali ke sarangnya (dua arah). Penelitian menunjukkan bahwa semut yang keluar sarang umumnya bergerak di jalur luar (kanan-kiri), sementara semut yang kembali ke sarang bergerak di jalur dalam (ada tiga lajur yang bisa diikuti semut). Dan perbedaan yang sangat besar dalam kasus semut ini adalah sifat agresif yang tidak ada pada lalu lintas semut. Mereka bergerak dalam jalur bersama yang sifatnya kooperatif, bukannya kanibalistis (kompetitif). Sifat ini berbeda dengan sifat gerombolan jangkrik tersebut.
Pengetahuan semacam inilah yang kemudian mengilhami beberapa teknik pengaturan jalan raya. Mobil satu dengan lainnya selalu diusahakan untuk bergerak dengan sifat semut, dan berusaha menghilangkan sifat jangkriknya. Jalanan teratur dimana mobil satu dengan lainnya tidak berusaha saling menyalip (namun dengan teratur menunggu giliran --- Prinsip NGANTRI yang TERATUR) ternyata didapati membuat jalanan lebih lancar dan nyaman (tentunya terbatas dengan kapasitas lebar jalannya juga). Lampu-lampu merah yang sifatnya kritikal diusahakan untuk menggunakan program software real time yang bisa mengatur pemenuhan permintaan (mobil ngantri) dan supply (lampu hijau). Di negara maju, mereka menggunakan induksi magnetis (ada garis bentuk kotak di jalan yang bisa membaca jumlah mobil yang lewat di kotak tersebut).
Bagaimana hubungannya dengan ekonomi? Susah juga, soalnya saya agak maksa-maksain... he..he...
Tapi model locust/jangkrik adalah model ekonomi pasar bebas yang sifatnya kompetisi. Model semut adalah model ekonomi sosialis. Kedua-dua jenis spesies ini merupakan spesies tangguh yang sudah lewat proses seleksi alam ribuan juta tahun (buat yang percaya teori evolusi), atau setidaknya masih bisa bertahan hidup sampai saat ini sejak penciptaannya. Kalau kita ini jangkrik, kita tidak punya pilihan selain bersifat seperti jangkrik yang kompetitif tersebut. Kalau kita semut, kitapun tidak punya pilihan lain selain bertingkah laku seperti semut. Namun sebagai manusia, kita bisa belajar dari semut maupun jangkrik ini dan mengambil kebaikan yang mereka tunjukkan.
Prinsip kompetisi kapitalis memang sudah membawa umat manusia pada kesejahteraan dan perkembangan taraf hidup yang lebih baik. Namun jika gerakan manusia yang agresif seperti jangkrik ini adalah hama atas lingkungan hidup (kehancuran spesies lain, banyak rakyat kecil yang di kanibalistikkan, tanaman dan hutan yang tidak bisa direboisasi lagi), barangkali sudah saatnya kita mulai mencontoh semut yang bergerak teratur dan bekerja sama agar suatu tujuan bersama bisa dicapai. Menjaga kelestarian hutan adalah bentuk melindungi sumber air (sungai) manusia. Dan kita perlu air. Kiranya kita bisa menghindari bertingkah laku seperti jangkrik yang membabat habis tanaman di depannya sehingga kita tidak kehilangan sumber air bersih yang kita butuhkan sendiri. Kiranya juga kita tidak terlalu bergantung dengan energi yang ternyata membuat suhu udara semakin panas dan akhirnya mengubah siklus alam dan iklim. Apakah kita bisa? Entahlah, kalau kita ini jangkrik, barangkali kita tidak bisa. Tapi kalau kita ini manusia beradab, mustinya kita bisa...
Jika lain kali ada pengemudi yang ugal-ugalan di jalan, tentunya anda punya penjelasan ilmiah terhadapnya jika anda berteriak.... "JANGKRIK... LOE".... ha...ha.. ha...
Monday, December 21, 2009
Saturday, October 17, 2009
Pemenang Nobel Ekonomi 2009
Elinor Ostrom and Oliver Williamson adalah pemenang nobel ekonomi tahun 2009. Yang menarik ternyata, adalah satu orang dari disiplin ilmu ekonomi, sementara yang satunya lagi dari disiplin politik. Apa artinya ini? Apakah politik dan ekonomi ternyata mulai membaur sehingga ilmuwan politik ternyata meraih nobel ekonomi?
Karya dari kedua orang ini menunjukkan bahwa ilmu ekonomi bukanlah tentang "Pasar", melainkan tentang alokasi sumber daya (alam, manusia, waktu, kelestarian lingkungan, dll) dan juga tentang distribusinya. Pasar (baik tradisional maupun pasar modern) muncul karena pasar ini berfungsi sangat baik dan efektif untuk mengalokasikan beberapa dari sumber daya ini. Namun yang perlu ditekankan dalam tesis mereka adalah dalam kata "BEBERAPA". Alternatif dan aturan-aturan lainnya telah disusun untuk menangani ketidakmampuan pasar ini dalam mengelola alokasi dan distribusi sumber daya lainnya. Jadi demikianlah tema umum nobel ekonomi baik tahun 2009 ini maupun beberapa tahun yang lalu (dimana Stiglitz maupun Krugman) berupaya mencari tahu kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh sistem pasar.
Demikianlah, ketidak-sempurnaan pasar ini dicari alternatif pemecahan masalahnya, baik melalui struktur organisasi, politik (yang merupakan alasan dimana salah satu pemenangnya adalah dari ilmu politik), aturan-aturan, petunjuk moral (PANCASILA, Gotong-ROYONG), manajemen informasi, dan insentif bukan uang seperti dengan menjadi terkenal, atau dianggap sebagai penatua masyarakat.
Sering kali aturan-aturan institusi ini bergerak dengan cara menciptakan pasar baru. Misalnya dengan konsep karbon trading, dimana emisi karbon berupaya untuk dimasukkan sebagai bagian dari biaya sebab emisi karbon ini mempengaruhi kualitas udara setiap manusia, bukan cuma pembeli dari produk konsumsi tersebut. Tentu disadari pula bahwa upaya inipun sulit, hampir mustahil dan bahkan tidak praktis dalam hal upaya memonitor/memberikan penalti serta ongkos-ongkos lainnya yang terlibat.
Kita dapat menarik pemahaman lebih dalam tentang ekonomi dari tesis mereka ini. Ternyata sistem kompetisi (non-cooperative) menghasilkan output yang melenceng dan sangat tidak mencukupi dari output optimal yang seharusnya bisa dicapai. Sistem kompetisi yang ditujukan untuk menurunkan harga dan meningkatkan efisiensi/efektifitas menunjukkan hasil yang baik, namun sistem semacam ini tidak cukup untuk kasus-kasus lainnya. Kedua pemenang nobel ini menunjukkan bahwa perlu suatu desain kreatif atas suatu institusi yang bertujuan untuk menjadi suplemen dari sistem kompetisi ini agar hasil akhirnya menjadi lebih optimal, baik dari segi sosial, ekonomis dan juga keadilan.
Aliran neoliberalisme (adam smith garis keras), menyatakan bahwa tindakan-tindakan kooperatif umumnya tidak akan berhasil. Contoh saja organisasi OPEC yang ingin membatasi supply agar harga minyak mentah menjadi tinggi. Tindakan-tindakan kooperatif umumnya selalu diiringi dengan penyakit "free rider". Misalnya saja dalam negara komunisme, akan ada banyak orang yang memilih untuk menganggur dan tidak bekerja sebab tanpa bekerja pun mereka masih bisa makan. Atau dalam kasus OPEC misalnya, bahwa semakin tinggi harga akibat supply yang semakin kering, akan semakin banyak negara yang berusaha untuk membangkang dan mulai menjual melebihi kuota yang diberikan kepada negara tersebut.
Contoh lainnya adalah tentang kolaborasi pengetahuan. Kita tahu bahwa pengetahuan/knowledge memiliki karakteristik yang unik, yakni bila seseorang memiliki pengetahuan, dan jika ia membagikannya maka ia masih akan memiliki pengetahuan itu sendiri tapi disaat yang sama orang lain juga akan memilikinya. Namun harus diakui bahwa proses dan biaya untuk mencari pengetahuan awal tersebut bukanlah proses yang mudah (biaya melakukan inovasi adalah tinggi). Jadi bila suatu perusahaan berupaya melakukan inovasi, insentif apakah yang dapat digunakan agar inovasi ini bermanfaat untuk orang banyak (semakin banyak inovasi) tapi insentif bagi inovator ini masih tetap ada? Kolaborasi pengetahuan tentu diketahui akan lebih mempercepat inovasi, namun disaat yang sama insentif bagi orang-per-orang (atau perusahaan) akan semakin menurun. Kita contohkan saja antara perang pembuatan software microsoft yang menggunakan paten dibandingkan dengan sistem open-source seperti linux. Linux sering memberikan inovasi dan teknologi tinggi tapi ternyata insentif keuangannya ternyata juga tidak banyak. Malah sampai sekarangpun Microsoft masih meraja-lela. "They examine the boundaries between the firm and the market" - as the Nobel Comittee put it.
Ostrom juga mencari tahu bahwa sumber daya umum (public property) ternyata tidak selalu harus diprivatisasi ataupun diserahkan kepada pemerintah. Kebaikan umum bagi masyarakat (a common good) umumnya bersifat kompetisi namun pada saat yang sama ia juga harus dibagi (shared but at the same time rivalrous). Artinya bila seseorang menggunakan kebaikan itu (menebang hutan untuk keuntungan moneter) maka orang lain akan kehilangan benefit dari hutan tersebut (kelestarian, udara segar, flora, fauna, dll). Beberapa bentuk common goods memiliki opsi untuk diprivatisasi atau digunakan sebagai hak publik, namun beberapa sudah tak memiliki opsi tersebut. Contohnya saja laut, sungai dan udara bersih adalah hampir tidak mungkin untuk di jadikan milik orang pribadi/perusahaan.
Dan bila kita mau berbicara tentang BUMN (privatisasi atau dijadikan milik negara atau sebagai common goods), ada baiknya juga kita perlu mengetahui tentang ide yang dikemukakan Ostrom dan Williamson ini.
Masalah kesehatan masyarakat dan penanganan pandemi (penyakit menular) tidak seharusnya dilakukan secara private/melalui sistem kompetisi, namun harusnya dilakukan secara kooperatif. Demikian pula tentang masalah kebersihan udara dan kelangsungan hidup bumi ini. Kegiatan kooperasi manusia/negara untuk mengangani pencemaran lingkungan/udara juga adalah suatu tindakan yang sebaiknya dilakukan secara kooperatif. Namun kembali kita bertanya apakah sistem kooperasi ini bisa berjalan? Insentif apa yang perlu diberikan agar kebaikan masyarakat umum ini bisa dicapai tanpa adanya free rider?
Dan kita kembali kepada sistem ekonomi pancasila dan prinsip ekonomi koperasi yang banyak didengungkan di milis-milis.... Barangkali sudah saatnya kita juga ikut serta dalam pengembangan sistem insentif yang memungkinkan berlangsungnya sistem kooperatif, sambil pada saat yang sama menghindari kehancuran ekonomi komunisme yang notabene seharusnya merupakan sistem kooperatif.
http://www.forbes.com/2009/10/12/economics-nobel-elinor-ostrom-oliver-williamson-opinions-contributors-michael-spence.html
Karya dari kedua orang ini menunjukkan bahwa ilmu ekonomi bukanlah tentang "Pasar", melainkan tentang alokasi sumber daya (alam, manusia, waktu, kelestarian lingkungan, dll) dan juga tentang distribusinya. Pasar (baik tradisional maupun pasar modern) muncul karena pasar ini berfungsi sangat baik dan efektif untuk mengalokasikan beberapa dari sumber daya ini. Namun yang perlu ditekankan dalam tesis mereka adalah dalam kata "BEBERAPA". Alternatif dan aturan-aturan lainnya telah disusun untuk menangani ketidakmampuan pasar ini dalam mengelola alokasi dan distribusi sumber daya lainnya. Jadi demikianlah tema umum nobel ekonomi baik tahun 2009 ini maupun beberapa tahun yang lalu (dimana Stiglitz maupun Krugman) berupaya mencari tahu kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh sistem pasar.
Demikianlah, ketidak-sempurnaan pasar ini dicari alternatif pemecahan masalahnya, baik melalui struktur organisasi, politik (yang merupakan alasan dimana salah satu pemenangnya adalah dari ilmu politik), aturan-aturan, petunjuk moral (PANCASILA, Gotong-ROYONG), manajemen informasi, dan insentif bukan uang seperti dengan menjadi terkenal, atau dianggap sebagai penatua masyarakat.
Sering kali aturan-aturan institusi ini bergerak dengan cara menciptakan pasar baru. Misalnya dengan konsep karbon trading, dimana emisi karbon berupaya untuk dimasukkan sebagai bagian dari biaya sebab emisi karbon ini mempengaruhi kualitas udara setiap manusia, bukan cuma pembeli dari produk konsumsi tersebut. Tentu disadari pula bahwa upaya inipun sulit, hampir mustahil dan bahkan tidak praktis dalam hal upaya memonitor/memberikan penalti serta ongkos-ongkos lainnya yang terlibat.
Kita dapat menarik pemahaman lebih dalam tentang ekonomi dari tesis mereka ini. Ternyata sistem kompetisi (non-cooperative) menghasilkan output yang melenceng dan sangat tidak mencukupi dari output optimal yang seharusnya bisa dicapai. Sistem kompetisi yang ditujukan untuk menurunkan harga dan meningkatkan efisiensi/efektifitas menunjukkan hasil yang baik, namun sistem semacam ini tidak cukup untuk kasus-kasus lainnya. Kedua pemenang nobel ini menunjukkan bahwa perlu suatu desain kreatif atas suatu institusi yang bertujuan untuk menjadi suplemen dari sistem kompetisi ini agar hasil akhirnya menjadi lebih optimal, baik dari segi sosial, ekonomis dan juga keadilan.
Aliran neoliberalisme (adam smith garis keras), menyatakan bahwa tindakan-tindakan kooperatif umumnya tidak akan berhasil. Contoh saja organisasi OPEC yang ingin membatasi supply agar harga minyak mentah menjadi tinggi. Tindakan-tindakan kooperatif umumnya selalu diiringi dengan penyakit "free rider". Misalnya saja dalam negara komunisme, akan ada banyak orang yang memilih untuk menganggur dan tidak bekerja sebab tanpa bekerja pun mereka masih bisa makan. Atau dalam kasus OPEC misalnya, bahwa semakin tinggi harga akibat supply yang semakin kering, akan semakin banyak negara yang berusaha untuk membangkang dan mulai menjual melebihi kuota yang diberikan kepada negara tersebut.
Contoh lainnya adalah tentang kolaborasi pengetahuan. Kita tahu bahwa pengetahuan/knowledge memiliki karakteristik yang unik, yakni bila seseorang memiliki pengetahuan, dan jika ia membagikannya maka ia masih akan memiliki pengetahuan itu sendiri tapi disaat yang sama orang lain juga akan memilikinya. Namun harus diakui bahwa proses dan biaya untuk mencari pengetahuan awal tersebut bukanlah proses yang mudah (biaya melakukan inovasi adalah tinggi). Jadi bila suatu perusahaan berupaya melakukan inovasi, insentif apakah yang dapat digunakan agar inovasi ini bermanfaat untuk orang banyak (semakin banyak inovasi) tapi insentif bagi inovator ini masih tetap ada? Kolaborasi pengetahuan tentu diketahui akan lebih mempercepat inovasi, namun disaat yang sama insentif bagi orang-per-orang (atau perusahaan) akan semakin menurun. Kita contohkan saja antara perang pembuatan software microsoft yang menggunakan paten dibandingkan dengan sistem open-source seperti linux. Linux sering memberikan inovasi dan teknologi tinggi tapi ternyata insentif keuangannya ternyata juga tidak banyak. Malah sampai sekarangpun Microsoft masih meraja-lela. "They examine the boundaries between the firm and the market" - as the Nobel Comittee put it.
Ostrom juga mencari tahu bahwa sumber daya umum (public property) ternyata tidak selalu harus diprivatisasi ataupun diserahkan kepada pemerintah. Kebaikan umum bagi masyarakat (a common good) umumnya bersifat kompetisi namun pada saat yang sama ia juga harus dibagi (shared but at the same time rivalrous). Artinya bila seseorang menggunakan kebaikan itu (menebang hutan untuk keuntungan moneter) maka orang lain akan kehilangan benefit dari hutan tersebut (kelestarian, udara segar, flora, fauna, dll). Beberapa bentuk common goods memiliki opsi untuk diprivatisasi atau digunakan sebagai hak publik, namun beberapa sudah tak memiliki opsi tersebut. Contohnya saja laut, sungai dan udara bersih adalah hampir tidak mungkin untuk di jadikan milik orang pribadi/perusahaan.
Dan bila kita mau berbicara tentang BUMN (privatisasi atau dijadikan milik negara atau sebagai common goods), ada baiknya juga kita perlu mengetahui tentang ide yang dikemukakan Ostrom dan Williamson ini.
Masalah kesehatan masyarakat dan penanganan pandemi (penyakit menular) tidak seharusnya dilakukan secara private/melalui sistem kompetisi, namun harusnya dilakukan secara kooperatif. Demikian pula tentang masalah kebersihan udara dan kelangsungan hidup bumi ini. Kegiatan kooperasi manusia/negara untuk mengangani pencemaran lingkungan/udara juga adalah suatu tindakan yang sebaiknya dilakukan secara kooperatif. Namun kembali kita bertanya apakah sistem kooperasi ini bisa berjalan? Insentif apa yang perlu diberikan agar kebaikan masyarakat umum ini bisa dicapai tanpa adanya free rider?
Dan kita kembali kepada sistem ekonomi pancasila dan prinsip ekonomi koperasi yang banyak didengungkan di milis-milis.... Barangkali sudah saatnya kita juga ikut serta dalam pengembangan sistem insentif yang memungkinkan berlangsungnya sistem kooperatif, sambil pada saat yang sama menghindari kehancuran ekonomi komunisme yang notabene seharusnya merupakan sistem kooperatif.
http://www.forbes.com/2009/10/12/economics-nobel-elinor-ostrom-oliver-williamson-opinions-contributors-michael-spence.html
Sunday, September 27, 2009
Tidak ada Pisang di Jerman Timur (dulu)
Sistem ekonomi otokratik atau sering dikenal dengan nama 'command and control' adalah sistem yang dianut oleh negara-negara komunis. Dasar pemikiran dari sistem command and control ini adalah bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah akan membawa keadilan yang lebih merata.
Namun kenyataan menunjukkan bahwa keadilan yang dicari oleh pemerintah ini dapat terkorupsi sebab aparat negara yang merencanakan pembangunan dan merencanakan pemerataan ini ternyata berubah menjadi eksklusif. Kekuasaan yang terlalu besar pada pemerintah telah mengubah fokus mereka untuk menjaga kelanggengan pemerintah dan mulai menerapkan tangan besi untuk memaksakan kehendak.
Semakin keras pemerintah menekan dan memaksa, semakin rendah moral rakyat untuk berproduksi. Dan anekdot populer setelah keruntuhan tembok Berlin menggambarkan gagalnya pemaksaan dan aturan ekonomi 'command and control' yang diterapkan oleh pemerintahan komunis Jerman Timur tersebut. Disebutkan bahwa penduduk Jerman Timur tidak pernah memakan pisang sebab buah pisang ini tidak pernah diproduksi di Jerman Timur. Berbagai toko-toko buah dan makanan pun akhirnya mulai berdiri di sepanjang jalan yang menghubungkan perbatasan Jerman Timur dan Jerman Barat. Pemerintah Jerman Barat pun menyadari keinginan penduduk Jerman Timur untuk mencoba rasa buah pisang yang eksotik ini, Pemerintah Jerman Barat kemudian membagikan buah pisang gratis pada penduduk Jerman Timur untuk merayakan runtuhnya komunisme di tempat Postdamer Platz, Berlin segera setelah tembok Berlin itu diruntuhkan.
Disini dibuktikan bahwa prinsip ekonomi pasar bebas jelas memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan ekonomi 'command and control'. Pasar bebas akan menyediakan barang yang diinginkan penduduk, dan bukannya barang yang menurut para birokrat dibutuhkan oleh penduduk. Landasan utama keajaiban sistem pasar bebas ini bisa diringkas dengan peribahasa berikut: dua kepala menghasilkan solusi yang lebih baik daripada solusi satu kepala. Dan dengan mengikut-sertakan seluruh otak-otak masyarakat untuk berpartisipasi dalam sistem ekonomi ini, maka sistem ekonomi pasar telah terbukti lebih unggul dari sistem ekonomi command and control.
Lalu teknik apa yang memungkinkan semua orang untuk berpartisipasi? Yang pertama adalah adanya hubungan antara usaha dan hasil. Tiap orang yang ingin memperoleh sesuatu keuntungan perlu menyumbangkan kerja yang dapat dinikmati oleh orang lain (pembayar/konsumen). Jadi pelaku-pelaku ekonomi yang dapat mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan dapat menyediakan barang atau jasa yang memenuhi keinginan konsumen dengan harga murah dan kualitas tinggi akan menerima balas jasa yang seimbang dengan usahanya tersebut. Demikianlah maka sistem ekonomi yang baik akhirnya akan berorientasi lebih kepada pemenuhan kebutuhan konsumen.
Lalu bagaimana dengan produsen? Kita ingat bahwa elemen utama dari sistem ekonomi yang baik adalah pemenuhan kebutuhan konsumen. Produsen yang baik tentu harus dapat mengenal kebutuhan konsumennya. Masalah timbul bila produsen ini memiliki kemampuan yang besar untuk memanipulasi persepsi konsumen. Alih-alih menunggu dan mencari apa yang dibutuhkan konsumen, produsen dapat menciptakan barang baru dan membujuk konsumen agar konsumen percaya bahwa barang yang mereka produksi dibutuhkan oleh konsumen.
Kita berikan contoh ekstrim pada industri narkoba. Konsumen yang dulunya tidak membutuhkan narkoba bisa dibujuk dan dibuat kecanduan sehingga produsen narkoba memperoleh konsumen baru dan industri narkoba yang sebenarnya tidak diperlukan akhirnya menjadi kebutuhan pokok dari konsumen tersebut. Contoh lain yang agak ringan barangkali dalam hal industri rokok. Rokok jelas bukanlah kebutuhan utama manusia sebab manusia bisa hidup normal tanpa merokok. Namun berbagai iklan dan advertisement dapat mengubah persepsi muda-mudi yang seharusnya sehat dan menjauhi rokok, dan mengubahnya menjadi pecandu rokok karena mereka tidak bisa lepas dari efek nikotin dalam rokok. Contoh lainnya juga adalah dimana produsen barang impor mewah yang menyatakan bahwa wanita/pria tidak akan cantik/ganteng kalau tidak menggunakan barang impor asli yang harganya dibawah 50 juta rupiah, misalnya.
Disinilah dapat kita lihat bahwa ternyata sedikit demi sedikit konsumen mulai kehilangan posisi pentingnya dalam proses pasar bebas ini. Posisi sentral konsumen sebenarnya telah digantikan oleh produsen yang dapat 'memaksakan' konsumen untuk membeli barang yang diproduksi oleh produsen.
Jadi ini adalah salah satu kelemahan sistem pasar bebas, yang dikenal dengan nama 'peng-agung-agungan konsumerisme'. Penamaan ini sebenarnya salah nama, sebab walaupun yang diusung tinggi dalam iklan-iklan adalah kata-kata 'Buy... Buy,.... Consume.... Consume...." fokus utama dari iklan ini adalah kekuatan produsen yang ternyata sudah melebihi kekuatan konsumen secara agregat.
Namun kenyataan menunjukkan bahwa keadilan yang dicari oleh pemerintah ini dapat terkorupsi sebab aparat negara yang merencanakan pembangunan dan merencanakan pemerataan ini ternyata berubah menjadi eksklusif. Kekuasaan yang terlalu besar pada pemerintah telah mengubah fokus mereka untuk menjaga kelanggengan pemerintah dan mulai menerapkan tangan besi untuk memaksakan kehendak.
Semakin keras pemerintah menekan dan memaksa, semakin rendah moral rakyat untuk berproduksi. Dan anekdot populer setelah keruntuhan tembok Berlin menggambarkan gagalnya pemaksaan dan aturan ekonomi 'command and control' yang diterapkan oleh pemerintahan komunis Jerman Timur tersebut. Disebutkan bahwa penduduk Jerman Timur tidak pernah memakan pisang sebab buah pisang ini tidak pernah diproduksi di Jerman Timur. Berbagai toko-toko buah dan makanan pun akhirnya mulai berdiri di sepanjang jalan yang menghubungkan perbatasan Jerman Timur dan Jerman Barat. Pemerintah Jerman Barat pun menyadari keinginan penduduk Jerman Timur untuk mencoba rasa buah pisang yang eksotik ini, Pemerintah Jerman Barat kemudian membagikan buah pisang gratis pada penduduk Jerman Timur untuk merayakan runtuhnya komunisme di tempat Postdamer Platz, Berlin segera setelah tembok Berlin itu diruntuhkan.
Disini dibuktikan bahwa prinsip ekonomi pasar bebas jelas memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan ekonomi 'command and control'. Pasar bebas akan menyediakan barang yang diinginkan penduduk, dan bukannya barang yang menurut para birokrat dibutuhkan oleh penduduk. Landasan utama keajaiban sistem pasar bebas ini bisa diringkas dengan peribahasa berikut: dua kepala menghasilkan solusi yang lebih baik daripada solusi satu kepala. Dan dengan mengikut-sertakan seluruh otak-otak masyarakat untuk berpartisipasi dalam sistem ekonomi ini, maka sistem ekonomi pasar telah terbukti lebih unggul dari sistem ekonomi command and control.
Lalu teknik apa yang memungkinkan semua orang untuk berpartisipasi? Yang pertama adalah adanya hubungan antara usaha dan hasil. Tiap orang yang ingin memperoleh sesuatu keuntungan perlu menyumbangkan kerja yang dapat dinikmati oleh orang lain (pembayar/konsumen). Jadi pelaku-pelaku ekonomi yang dapat mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan dapat menyediakan barang atau jasa yang memenuhi keinginan konsumen dengan harga murah dan kualitas tinggi akan menerima balas jasa yang seimbang dengan usahanya tersebut. Demikianlah maka sistem ekonomi yang baik akhirnya akan berorientasi lebih kepada pemenuhan kebutuhan konsumen.
Lalu bagaimana dengan produsen? Kita ingat bahwa elemen utama dari sistem ekonomi yang baik adalah pemenuhan kebutuhan konsumen. Produsen yang baik tentu harus dapat mengenal kebutuhan konsumennya. Masalah timbul bila produsen ini memiliki kemampuan yang besar untuk memanipulasi persepsi konsumen. Alih-alih menunggu dan mencari apa yang dibutuhkan konsumen, produsen dapat menciptakan barang baru dan membujuk konsumen agar konsumen percaya bahwa barang yang mereka produksi dibutuhkan oleh konsumen.
Kita berikan contoh ekstrim pada industri narkoba. Konsumen yang dulunya tidak membutuhkan narkoba bisa dibujuk dan dibuat kecanduan sehingga produsen narkoba memperoleh konsumen baru dan industri narkoba yang sebenarnya tidak diperlukan akhirnya menjadi kebutuhan pokok dari konsumen tersebut. Contoh lain yang agak ringan barangkali dalam hal industri rokok. Rokok jelas bukanlah kebutuhan utama manusia sebab manusia bisa hidup normal tanpa merokok. Namun berbagai iklan dan advertisement dapat mengubah persepsi muda-mudi yang seharusnya sehat dan menjauhi rokok, dan mengubahnya menjadi pecandu rokok karena mereka tidak bisa lepas dari efek nikotin dalam rokok. Contoh lainnya juga adalah dimana produsen barang impor mewah yang menyatakan bahwa wanita/pria tidak akan cantik/ganteng kalau tidak menggunakan barang impor asli yang harganya dibawah 50 juta rupiah, misalnya.
Disinilah dapat kita lihat bahwa ternyata sedikit demi sedikit konsumen mulai kehilangan posisi pentingnya dalam proses pasar bebas ini. Posisi sentral konsumen sebenarnya telah digantikan oleh produsen yang dapat 'memaksakan' konsumen untuk membeli barang yang diproduksi oleh produsen.
Jadi ini adalah salah satu kelemahan sistem pasar bebas, yang dikenal dengan nama 'peng-agung-agungan konsumerisme'. Penamaan ini sebenarnya salah nama, sebab walaupun yang diusung tinggi dalam iklan-iklan adalah kata-kata 'Buy... Buy,.... Consume.... Consume...." fokus utama dari iklan ini adalah kekuatan produsen yang ternyata sudah melebihi kekuatan konsumen secara agregat.
Monday, September 21, 2009
Tentang Keuntungan
dari "Ten Points about Profit" - Martin Wolf
"Fourth, the idea that a company is an entity that can be freely bought and sold is culturally specific. It is the view, above all, of Anglo Americans. It is not shared in most of the rest of the world. The reason for this divergence is that, for many cultures, a company is viewed as being an enduring social entity.
I once read that, for many Japanese, one can no more sell a company over the heads of its workers than one can sell one's grandmother. In this view, goods and services can be bought and sold. Companies, like countries (or as we all now agree, people), must not be.
In this perspective, shareholders are not genuine owners. They contribute nothing of value to the competitive strenghts of the firm, enjoy the benefits of limited liability, and are well able to diversify the risks they run. They are merely an (ever shifting) group of people with a claim to the residual income. Those with the biggest (undiversifiable) investment in hte firm - and thus the greatest exposure to firm-specific risks- are not shareholders but core workers. The interest of the latter are, therefore, paramount.
"Fourth, the idea that a company is an entity that can be freely bought and sold is culturally specific. It is the view, above all, of Anglo Americans. It is not shared in most of the rest of the world. The reason for this divergence is that, for many cultures, a company is viewed as being an enduring social entity.
I once read that, for many Japanese, one can no more sell a company over the heads of its workers than one can sell one's grandmother. In this view, goods and services can be bought and sold. Companies, like countries (or as we all now agree, people), must not be.
In this perspective, shareholders are not genuine owners. They contribute nothing of value to the competitive strenghts of the firm, enjoy the benefits of limited liability, and are well able to diversify the risks they run. They are merely an (ever shifting) group of people with a claim to the residual income. Those with the biggest (undiversifiable) investment in hte firm - and thus the greatest exposure to firm-specific risks- are not shareholders but core workers. The interest of the latter are, therefore, paramount.
Friday, September 18, 2009
Glasnot & Perestroika
Ringkasan dari Interview Jeffrey D. Sachs dengan Frontline, 1999
Di dalam panasnya perkembangan Reformasi dan Keterbukaan yang didengungkan Boris Yeltsin, Jeffrey D Sachs adalah salah satu penasihat ekonomi untuk Rusia. Sachs mendapat kesempatan istimewa untuk melakukan pengamatan mendalam dari posisinya ini.
Perubahan arah ekonomi yang sangat mengagumkan ini dimulai di tahun 1991-1992 dengan dibubarkannya Soviet Union. Dan menurut konsensus pasar bebas dan demokrasi, arah perubahan yang terjadi ini adalah awal yang sangat baik. IMF, World Bank, PBB, dan juga pemerintahan negara-negara lain tidak perlu ikut campur ataupun memberikan bantuan untuk memupuk demokrasi yang baik di negara-negara Rusia dan 14 negara baru yang dulunya merupakan bagian dari Soviet Union.
Mereka memerlukan dana untuk pembangunan, dan IMF maupun World Bank tentu mengerti. Namun konsep Invisible Hand Adam Smith yang dibawa ke titik ekstrim pada masa pemerintahan Reagan dan Thatcher jelas-jelas menunjukkan bahwa negara-negara baru tersebut sudah bebas dan bisa berupaya sendiri untuk mencari kesejahteraannya masing-masing. Tidak perlu ada campur tangan pemerintah dan lembaga ekonomi internasional. Pandangan filosofis ini dikenal dengan nama Washington Consensus.
"The washington consensus had a lot of merit in one sense. It did provide some sensible, broad ideas about how countries that were outside of the international system could become part of the international system. But it became a substitute for real thinking. It became a kind of mantra, a substitute for assistance, because the idea was 'You don't need us. You don't need any help. You don't even need a time-out on your debt payments. You just have to follow the magic rules, one through ten, and you'll be just fine.' So in this sense, everything became over simplified. The actions of the IMF and World Bank became very stylized. The US Treasury had its model, and unfortunately, at that level of simplicity, it just doesn't work."
Sachs menjelaskan bahwa rumus-rumus yang diterapkan konsensus washington tersebut lerlalu menyederhanakan masalah. Rumus tersebut menjadi mantra dan menggantikan akal sehat. Tidak ada tenggang waktu pembayaran hutang, tak ada bantuan, semuanya diserahkan kepada pasar bebas dan keberuntungan masing-masing negara. Walaupun secara garis besar Sachs menyetujui tujuan dan bentuk yang ingin dicapai dari rumus-rumus ekonomi tersebut, pada level pelaksanaan, rumus tersebut terlalu sederhana dan tidak akan dapat berjalan dengan baik.
Mantra yang didengungkan IMF adalah untuk membuka pasar bebas agar dapat ikut serta dalam sirkulasi ekonomi, termasuk juga pasar finansial. Ada banyak merit dari sistem ini, tapi bagaimana mengelola perubahaan tersebut menjadi terbuka juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan berintegrasi secara sukses dalam sistem internasional tersebut. The economy may need some tender loving care also, not just the so-called hard truths, if its going to succeed.
Dan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan dan budget pemerintah, mereka mulai membuka pasar obligasi pemerintah, obligasi swasta dan pasar saham. Hutang pemerintah dalam jumlah wajar dan yang dapat dimanage akan sangat bermanfaat. Masalah timbul sebab tanpa adanya sumber pendapatan yang stabil ataupun tanpa adanya dana bantuan dari lembaga internasional, maka hutang-hutang ini akan berubah menjadi masalah. Sumber-sumber pendapatan negara banyak berkurang karena perusahaan negara diubah dan diprivatisasi menjadi swasta. Korupsi dan upaya menghindari pembayaran pajak dari perusahaan yang telah diprivatisasi ini kemudian akhirnya memberatkan anggaran negara. Sumber pendapatan yang seharusnya diterima negara malah dicuri oleh para koruptor konglomerat yang sebenarnya diciptakan oleh pemerintah itu sendiri. Korupsi dalam proses privatisasi aset negara sudah sedemikian marak sampai-sampai akhirnya pemerintah terpaksa menggunakan dana hutang jangka pendek dengan bunga sampai 50% untuk memenuhi kebutuhan belanja negara.
"Those resources could have been turned to real money, to be used to pay pensions, to close the budget deficit, to keep inflation low, to get the reforms under way. But thye gave away those natural resources, and ended up instead relying on borrowing from international speculators and investors, at very high interest rates, on very short term debts"
Semakin lama, hutang jangka pendek (hot money) ini berkembang semakin besar dan membengkak sedemikian rupa hingga pembayaran bunga hutang pun sudah menjadi sedemikian berat. Anehnya, pasar finansial yang bebas ini justru masih mengucurkan dana-dana panas ke pasar finansial Rusia. Hedge Fund dan Fund Manager sudah kecanduan dengan keuntungan 50% yang begitu mudahnya di dapat dalam JANGKA PENDEK ini. Sampai akhirnya sistem keuangan Asia mendapat guncangan hebat di tahun 1997. Spekulasi mata uang Asia yang berakibat pada kasus-kasus gagal bayar (default) mulai bermunculan.
Fund Manager dan Bank yang tadinya berlomba-lomba meminjamkan uang ke Rusia akhirnya mulai merasa takut. Greed berubah menjadi Fear. Satu demi satu Dana Jangka PENDEK ini mulai ditarik. Tanpa adanya uang baru untuk menambal lubang hutang yang lama, Rusia dan juga Brazil yang berada pada kondisi yang sama akhirnya mulai runtuh. Eventually both of the collapsed.
"But in the short term, the International Community told both of them, 'Don't give up. Use your reserves. Defend the currency. Raise interest rates even higher.', which I think is the kiss of death for employment, for growth and so on. IMF, World Bank easily give this kiss of Death because Wall Street is getting the high interest rates. So already, in October 1997 both Russia and Brazil were on a collision course with history. I was amazed with the advice in Asia. I was amazed at the advice given to Russia and Brazil, because it was basically the same everywhere. 'Just raise those interest rates and keep paying the foreign investors, because that is what establishes confidence, after all. If need be, we'll give you the money to do it'."
Something have to be done, but nobody was doing anything, until the race car eventually hit the brick wall at full speed in a direct collision.
And how was all that started?
In early 1990's, when a lot of the developing world opened up to international capital flows, without the right kind of regulatory environment, and not understanding how vulnerable they would become to panics and euphoric waves of sentiment, they ended up with a tremendous amount of short term debt. Often they were invested in VERY good long term projects, but projects that weren't going to pay off for five or 10 or 20 years.
Di dalam panasnya perkembangan Reformasi dan Keterbukaan yang didengungkan Boris Yeltsin, Jeffrey D Sachs adalah salah satu penasihat ekonomi untuk Rusia. Sachs mendapat kesempatan istimewa untuk melakukan pengamatan mendalam dari posisinya ini.
Perubahan arah ekonomi yang sangat mengagumkan ini dimulai di tahun 1991-1992 dengan dibubarkannya Soviet Union. Dan menurut konsensus pasar bebas dan demokrasi, arah perubahan yang terjadi ini adalah awal yang sangat baik. IMF, World Bank, PBB, dan juga pemerintahan negara-negara lain tidak perlu ikut campur ataupun memberikan bantuan untuk memupuk demokrasi yang baik di negara-negara Rusia dan 14 negara baru yang dulunya merupakan bagian dari Soviet Union.
Mereka memerlukan dana untuk pembangunan, dan IMF maupun World Bank tentu mengerti. Namun konsep Invisible Hand Adam Smith yang dibawa ke titik ekstrim pada masa pemerintahan Reagan dan Thatcher jelas-jelas menunjukkan bahwa negara-negara baru tersebut sudah bebas dan bisa berupaya sendiri untuk mencari kesejahteraannya masing-masing. Tidak perlu ada campur tangan pemerintah dan lembaga ekonomi internasional. Pandangan filosofis ini dikenal dengan nama Washington Consensus.
"The washington consensus had a lot of merit in one sense. It did provide some sensible, broad ideas about how countries that were outside of the international system could become part of the international system. But it became a substitute for real thinking. It became a kind of mantra, a substitute for assistance, because the idea was 'You don't need us. You don't need any help. You don't even need a time-out on your debt payments. You just have to follow the magic rules, one through ten, and you'll be just fine.' So in this sense, everything became over simplified. The actions of the IMF and World Bank became very stylized. The US Treasury had its model, and unfortunately, at that level of simplicity, it just doesn't work."
Sachs menjelaskan bahwa rumus-rumus yang diterapkan konsensus washington tersebut lerlalu menyederhanakan masalah. Rumus tersebut menjadi mantra dan menggantikan akal sehat. Tidak ada tenggang waktu pembayaran hutang, tak ada bantuan, semuanya diserahkan kepada pasar bebas dan keberuntungan masing-masing negara. Walaupun secara garis besar Sachs menyetujui tujuan dan bentuk yang ingin dicapai dari rumus-rumus ekonomi tersebut, pada level pelaksanaan, rumus tersebut terlalu sederhana dan tidak akan dapat berjalan dengan baik.
Mantra yang didengungkan IMF adalah untuk membuka pasar bebas agar dapat ikut serta dalam sirkulasi ekonomi, termasuk juga pasar finansial. Ada banyak merit dari sistem ini, tapi bagaimana mengelola perubahaan tersebut menjadi terbuka juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan berintegrasi secara sukses dalam sistem internasional tersebut. The economy may need some tender loving care also, not just the so-called hard truths, if its going to succeed.
Dan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan dan budget pemerintah, mereka mulai membuka pasar obligasi pemerintah, obligasi swasta dan pasar saham. Hutang pemerintah dalam jumlah wajar dan yang dapat dimanage akan sangat bermanfaat. Masalah timbul sebab tanpa adanya sumber pendapatan yang stabil ataupun tanpa adanya dana bantuan dari lembaga internasional, maka hutang-hutang ini akan berubah menjadi masalah. Sumber-sumber pendapatan negara banyak berkurang karena perusahaan negara diubah dan diprivatisasi menjadi swasta. Korupsi dan upaya menghindari pembayaran pajak dari perusahaan yang telah diprivatisasi ini kemudian akhirnya memberatkan anggaran negara. Sumber pendapatan yang seharusnya diterima negara malah dicuri oleh para koruptor konglomerat yang sebenarnya diciptakan oleh pemerintah itu sendiri. Korupsi dalam proses privatisasi aset negara sudah sedemikian marak sampai-sampai akhirnya pemerintah terpaksa menggunakan dana hutang jangka pendek dengan bunga sampai 50% untuk memenuhi kebutuhan belanja negara.
"Those resources could have been turned to real money, to be used to pay pensions, to close the budget deficit, to keep inflation low, to get the reforms under way. But thye gave away those natural resources, and ended up instead relying on borrowing from international speculators and investors, at very high interest rates, on very short term debts"
Semakin lama, hutang jangka pendek (hot money) ini berkembang semakin besar dan membengkak sedemikian rupa hingga pembayaran bunga hutang pun sudah menjadi sedemikian berat. Anehnya, pasar finansial yang bebas ini justru masih mengucurkan dana-dana panas ke pasar finansial Rusia. Hedge Fund dan Fund Manager sudah kecanduan dengan keuntungan 50% yang begitu mudahnya di dapat dalam JANGKA PENDEK ini. Sampai akhirnya sistem keuangan Asia mendapat guncangan hebat di tahun 1997. Spekulasi mata uang Asia yang berakibat pada kasus-kasus gagal bayar (default) mulai bermunculan.
Fund Manager dan Bank yang tadinya berlomba-lomba meminjamkan uang ke Rusia akhirnya mulai merasa takut. Greed berubah menjadi Fear. Satu demi satu Dana Jangka PENDEK ini mulai ditarik. Tanpa adanya uang baru untuk menambal lubang hutang yang lama, Rusia dan juga Brazil yang berada pada kondisi yang sama akhirnya mulai runtuh. Eventually both of the collapsed.
"But in the short term, the International Community told both of them, 'Don't give up. Use your reserves. Defend the currency. Raise interest rates even higher.', which I think is the kiss of death for employment, for growth and so on. IMF, World Bank easily give this kiss of Death because Wall Street is getting the high interest rates. So already, in October 1997 both Russia and Brazil were on a collision course with history. I was amazed with the advice in Asia. I was amazed at the advice given to Russia and Brazil, because it was basically the same everywhere. 'Just raise those interest rates and keep paying the foreign investors, because that is what establishes confidence, after all. If need be, we'll give you the money to do it'."
Something have to be done, but nobody was doing anything, until the race car eventually hit the brick wall at full speed in a direct collision.
And how was all that started?
In early 1990's, when a lot of the developing world opened up to international capital flows, without the right kind of regulatory environment, and not understanding how vulnerable they would become to panics and euphoric waves of sentiment, they ended up with a tremendous amount of short term debt. Often they were invested in VERY good long term projects, but projects that weren't going to pay off for five or 10 or 20 years.
Tuesday, August 18, 2009
Wall Street, asal-usul jaman Dulu
Pada tahun 1792, di bawah pohon buttonwood (?), para pedagang-pelaut, penyedia dana dan peserta-peserta transaksi keuangan lainnya menyetujui untuk membuat suatu formalisasi lembaga pasar untuk membeli dan menjual saham dari perusahaan yang sedang berkembang, dan juga obligasi atau surat hutang dari perusahaan yang sedang membutuhkan dana.
Transaksi-transaksi sebelum ini sudah mulai terbentuk secara informal di sepanjang jalan yang dikenal sebagai wall street ini. Menurut sejarahnya, ratusan tahun sebelumnya daerah tersebut masih dalam wilayah kekuasaan Belanda. Gubernur yang memimpin daerah tersebut adalah Peter Stuyvesant. Dan untuk mencegah penyerangan suku indian amerika, pemerintah mendirikan tembok pertahanan.
Puluhan tahun kemudian, para pedagang dan penyedia dana berkumpul secara informal di sepanjang jalan yang berada dekat dengan tembok ini. Jalan inilah yang kemudian sampai sekarang dikenal dengan nama Wall Street.
Lembaga NYSE (New York Stock Exchange) sendiri baru terbentuk di tahun 1863, namun persepsi masyarakat selalu merujuk pada tahun 1792 dimana perjanjian buttonwood yang bertujuan untuk mencegah kekacauan dan manipulasi pasar dianggap sebagai dasar dan saat konsepsi dari NYSE ini.
Transaksi-transaksi sebelum ini sudah mulai terbentuk secara informal di sepanjang jalan yang dikenal sebagai wall street ini. Menurut sejarahnya, ratusan tahun sebelumnya daerah tersebut masih dalam wilayah kekuasaan Belanda. Gubernur yang memimpin daerah tersebut adalah Peter Stuyvesant. Dan untuk mencegah penyerangan suku indian amerika, pemerintah mendirikan tembok pertahanan.
Puluhan tahun kemudian, para pedagang dan penyedia dana berkumpul secara informal di sepanjang jalan yang berada dekat dengan tembok ini. Jalan inilah yang kemudian sampai sekarang dikenal dengan nama Wall Street.
Lembaga NYSE (New York Stock Exchange) sendiri baru terbentuk di tahun 1863, namun persepsi masyarakat selalu merujuk pada tahun 1792 dimana perjanjian buttonwood yang bertujuan untuk mencegah kekacauan dan manipulasi pasar dianggap sebagai dasar dan saat konsepsi dari NYSE ini.
Tuesday, August 4, 2009
Mungkin Menarik, "False Economy: A Surprising Economic History of the World"
Buku ini karangan Alan Beattie, editor Financial Times tentang pelajaran atau poin-poin yang dapat diperhatikan dari sejarah ekonomi negara-negara yang ada di dunia ini.
Menurutnya, baik Argentina maupun Amerika memiliki peluang yang sama untuk menjadi sukses secara ekonomi. Namun mengapa Amerika lebih maju sementara Argentina mengalami krisis ekonomi demi krisis ekonomi.
Berulang-ulang ia menyebutkan tesisnya bahwa suatu negara menjadi makmur bukan karena keberuntungan mereka. Negara yang beruntung memiliki alam, atau kandungan minyak maupun komoditas yang berlimpah ternyata tidak selalu merupakan negara makmur. Faktor penting yang menentukan menurutnya adalah pilihan yang diambil oleh pemimpin dan pilihan yang diambil oleh rakyat yang dipimpinnya.
Sumber alam malah sering menjadi kutukan dan bukannya berkat. Sumber alam hanya memberikan sedikit peluang pekerjaan bagi penduduk lokal. Pekerjaan lebih banyak dilakukan oleh orang-orang asing yang dipanggil untuk mengolah sumber daya tersebut. Hasil dan keuntungan dari pengerukan sumber daya alam tersebut masuk ke kantong perusahaan multinasional. Keuntungan yang tidak diambil oleh perusahaan multinasional tersebut banyak yang berakhir di rekening luar negeri dari para politikus dan bukannya memakmurkan rakyat umum. Namun tidak semua negara terperangkap dalam kutukan ini. Beatie memberi contoh bahwa Botswana mampu menjaga dirinya agar tidak jatuh dengan mengatur manajemen kekayaan berliannya, yang sangat berbeda dengan kekacauan yang disebabkan oleh berlian di Sierra Leone.
Buku ini mungkin menarik, menunjukkan bagaimana respons penduduk dan pemimpin lebih mempengaruhi kemakmuran negara daripada sumber daya alam yang dimilikinya. Respons apa yang baik serta respons apa yang perlu dihindari agar negara mencapai kemakmuran.
Menurutnya, baik Argentina maupun Amerika memiliki peluang yang sama untuk menjadi sukses secara ekonomi. Namun mengapa Amerika lebih maju sementara Argentina mengalami krisis ekonomi demi krisis ekonomi.
Berulang-ulang ia menyebutkan tesisnya bahwa suatu negara menjadi makmur bukan karena keberuntungan mereka. Negara yang beruntung memiliki alam, atau kandungan minyak maupun komoditas yang berlimpah ternyata tidak selalu merupakan negara makmur. Faktor penting yang menentukan menurutnya adalah pilihan yang diambil oleh pemimpin dan pilihan yang diambil oleh rakyat yang dipimpinnya.
Sumber alam malah sering menjadi kutukan dan bukannya berkat. Sumber alam hanya memberikan sedikit peluang pekerjaan bagi penduduk lokal. Pekerjaan lebih banyak dilakukan oleh orang-orang asing yang dipanggil untuk mengolah sumber daya tersebut. Hasil dan keuntungan dari pengerukan sumber daya alam tersebut masuk ke kantong perusahaan multinasional. Keuntungan yang tidak diambil oleh perusahaan multinasional tersebut banyak yang berakhir di rekening luar negeri dari para politikus dan bukannya memakmurkan rakyat umum. Namun tidak semua negara terperangkap dalam kutukan ini. Beatie memberi contoh bahwa Botswana mampu menjaga dirinya agar tidak jatuh dengan mengatur manajemen kekayaan berliannya, yang sangat berbeda dengan kekacauan yang disebabkan oleh berlian di Sierra Leone.
Buku ini mungkin menarik, menunjukkan bagaimana respons penduduk dan pemimpin lebih mempengaruhi kemakmuran negara daripada sumber daya alam yang dimilikinya. Respons apa yang baik serta respons apa yang perlu dihindari agar negara mencapai kemakmuran.
Subscribe to:
Posts (Atom)