Friday, September 18, 2009

Glasnot & Perestroika

Ringkasan dari Interview Jeffrey D. Sachs dengan Frontline, 1999

Di dalam panasnya perkembangan Reformasi dan Keterbukaan yang didengungkan Boris Yeltsin, Jeffrey D Sachs adalah salah satu penasihat ekonomi untuk Rusia. Sachs mendapat kesempatan istimewa untuk melakukan pengamatan mendalam dari posisinya ini.

Perubahan arah ekonomi yang sangat mengagumkan ini dimulai di tahun 1991-1992 dengan dibubarkannya Soviet Union. Dan menurut konsensus pasar bebas dan demokrasi, arah perubahan yang terjadi ini adalah awal yang sangat baik. IMF, World Bank, PBB, dan juga pemerintahan negara-negara lain tidak perlu ikut campur ataupun memberikan bantuan untuk memupuk demokrasi yang baik di negara-negara Rusia dan 14 negara baru yang dulunya merupakan bagian dari Soviet Union.

Mereka memerlukan dana untuk pembangunan, dan IMF maupun World Bank tentu mengerti. Namun konsep Invisible Hand Adam Smith yang dibawa ke titik ekstrim pada masa pemerintahan Reagan dan Thatcher jelas-jelas menunjukkan bahwa negara-negara baru tersebut sudah bebas dan bisa berupaya sendiri untuk mencari kesejahteraannya masing-masing. Tidak perlu ada campur tangan pemerintah dan lembaga ekonomi internasional. Pandangan filosofis ini dikenal dengan nama Washington Consensus.

"The washington consensus had a lot of merit in one sense. It did provide some sensible, broad ideas about how countries that were outside of the international system could become part of the international system. But it became a substitute for real thinking. It became a kind of mantra, a substitute for assistance, because the idea was 'You don't need us. You don't need any help. You don't even need a time-out on your debt payments. You just have to follow the magic rules, one through ten, and you'll be just fine.' So in this sense, everything became over simplified. The actions of the IMF and World Bank became very stylized. The US Treasury had its model, and unfortunately, at that level of simplicity, it just doesn't work."

Sachs menjelaskan bahwa rumus-rumus yang diterapkan konsensus washington tersebut lerlalu menyederhanakan masalah. Rumus tersebut menjadi mantra dan menggantikan akal sehat. Tidak ada tenggang waktu pembayaran hutang, tak ada bantuan, semuanya diserahkan kepada pasar bebas dan keberuntungan masing-masing negara. Walaupun secara garis besar Sachs menyetujui tujuan dan bentuk yang ingin dicapai dari rumus-rumus ekonomi tersebut, pada level pelaksanaan, rumus tersebut terlalu sederhana dan tidak akan dapat berjalan dengan baik.

Mantra yang didengungkan IMF adalah untuk membuka pasar bebas agar dapat ikut serta dalam sirkulasi ekonomi, termasuk juga pasar finansial. Ada banyak merit dari sistem ini, tapi bagaimana mengelola perubahaan tersebut menjadi terbuka juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan berintegrasi secara sukses dalam sistem internasional tersebut. The economy may need some tender loving care also, not just the so-called hard truths, if its going to succeed.

Dan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan dan budget pemerintah, mereka mulai membuka pasar obligasi pemerintah, obligasi swasta dan pasar saham. Hutang pemerintah dalam jumlah wajar dan yang dapat dimanage akan sangat bermanfaat. Masalah timbul sebab tanpa adanya sumber pendapatan yang stabil ataupun tanpa adanya dana bantuan dari lembaga internasional, maka hutang-hutang ini akan berubah menjadi masalah. Sumber-sumber pendapatan negara banyak berkurang karena perusahaan negara diubah dan diprivatisasi menjadi swasta. Korupsi dan upaya menghindari pembayaran pajak dari perusahaan yang telah diprivatisasi ini kemudian akhirnya memberatkan anggaran negara. Sumber pendapatan yang seharusnya diterima negara malah dicuri oleh para koruptor konglomerat yang sebenarnya diciptakan oleh pemerintah itu sendiri. Korupsi dalam proses privatisasi aset negara sudah sedemikian marak sampai-sampai akhirnya pemerintah terpaksa menggunakan dana hutang jangka pendek dengan bunga sampai 50% untuk memenuhi kebutuhan belanja negara.

"Those resources could have been turned to real money, to be used to pay pensions, to close the budget deficit, to keep inflation low, to get the reforms under way. But thye gave away those natural resources, and ended up instead relying on borrowing from international speculators and investors, at very high interest rates, on very short term debts"

Semakin lama, hutang jangka pendek (hot money) ini berkembang semakin besar dan membengkak sedemikian rupa hingga pembayaran bunga hutang pun sudah menjadi sedemikian berat. Anehnya, pasar finansial yang bebas ini justru masih mengucurkan dana-dana panas ke pasar finansial Rusia. Hedge Fund dan Fund Manager sudah kecanduan dengan keuntungan 50% yang begitu mudahnya di dapat dalam JANGKA PENDEK ini. Sampai akhirnya sistem keuangan Asia mendapat guncangan hebat di tahun 1997. Spekulasi mata uang Asia yang berakibat pada kasus-kasus gagal bayar (default) mulai bermunculan.

Fund Manager dan Bank yang tadinya berlomba-lomba meminjamkan uang ke Rusia akhirnya mulai merasa takut. Greed berubah menjadi Fear. Satu demi satu Dana Jangka PENDEK ini mulai ditarik. Tanpa adanya uang baru untuk menambal lubang hutang yang lama, Rusia dan juga Brazil yang berada pada kondisi yang sama akhirnya mulai runtuh. Eventually both of the collapsed.

"But in the short term, the International Community told both of them, 'Don't give up. Use your reserves. Defend the currency. Raise interest rates even higher.', which I think is the kiss of death for employment, for growth and so on. IMF, World Bank easily give this kiss of Death because Wall Street is getting the high interest rates. So already, in October 1997 both Russia and Brazil were on a collision course with history. I was amazed with the advice in Asia. I was amazed at the advice given to Russia and Brazil, because it was basically the same everywhere. 'Just raise those interest rates and keep paying the foreign investors, because that is what establishes confidence, after all. If need be, we'll give you the money to do it'."

Something have to be done, but nobody was doing anything, until the race car eventually hit the brick wall at full speed in a direct collision.

And how was all that started?
In early 1990's, when a lot of the developing world opened up to international capital flows, without the right kind of regulatory environment, and not understanding how vulnerable they would become to panics and euphoric waves of sentiment, they ended up with a tremendous amount of short term debt. Often they were invested in VERY good long term projects, but projects that weren't going to pay off for five or 10 or 20 years.

1 comment:

  1. I add 2 points more from the interview:
    "So here were countries doing quite well, but they decided to borrow a bit more and do even better. It added up to about $175 billion of short term debt, owed by five developing countries in Asia: Indonesia, Korea, Malaysia, Philippines and Thailand. That 175 billion could all be yanked quite quickly.

    When the creditors, which were mainly international banks, started to have anxieties about what the other banks were going to do, because each one thought that the other one was going to get his money out first. They then realized that the amount of short term debt that was due was probably about 75% more than the shortterm dollar assets that those countries hel. A panic developed, in which every bank said, "We don't know and WE DON'T CARE about the LONG TERM of this country. We just want OUR MONEY OUT right now".

    .... and then the LONG TERM of the COUNTRY goes DOWN the DRAIN.... along with 210 million man and women. Parents and childrens. Grand Parents and Grand Child. Young and Old... lives destroyed.... (ehm... exagerate abit.. but you know what i mean...).

    Prevent this from happening...

    ReplyDelete