Sunday, August 2, 2009

Satu-satunya uang yang benar adalah Emas, Benar atau Salah? -Part3

Bretton Woods, Standar Emas, dan Kurs Mengambang

Dengan landasan inilah kita dapat melihat bahwa nilai intrinsik suatu mata uang sebuah negara sangat terkait dengan kemampuan, pengetahuan, dan produktifitas warga negara tempat digunakannya mata uang tersebut. Pada jaman era tahun 1945 pun logam masih memegang peran penting. Tanpa logam, pihak sekutu tidak akan mampu membendung ambisi jahat Hitler. Mesin-mesin perang semuanya memerlukan komponen logam yang sangat tinggi. Dan harus diakui pula bahwa kemampuan teknis dalam mengolah metal ini sudah sedemikian tinggi sehingga mereka dapat membuat gumpalan besi yang berat untuk terangkat dan terbang di udara. Dengan demikian wajarlah bila pada masa itu pemimpin dunia pasca perang dunia kedua mengambil kesepakatan Bretton Woods, yaitu untuk kembali mematok seluruh mata uang dunia kepada emas.

Kesepakatan Bretton Woods ini mematok tetap mata uang seluruh negara-negara dunia dengan dollar Amerika (fixed exchange rate). Sementara di saat yang sama, kurs dollar Amerika juga dipatok tetap dengan emas, yakni $35 untuk tiap ounce emas. Ini berarti secara keseluruhan seluruh penduduk dunia menggunakan emas sebagai standar uang pada saat itu.

Kesepakatan ini diambil karena pada akhir masa perang dunia ke-dua tersebut hanya Amerikalah yang memiliki jumlah emas terbanyak di dunia. Negara Inggris, Jerman, Prancis dan Rusia, semuanya telah menggunakan seluruh emas mereka untuk mendanai perang. Negara Inggris memiliki banyak hutang akibat banyaknya persenjataan yang mereka impor dari Amerika. Demikianlah sebagian besar emas dunia berakhir di tangan Amerika.

Dengan menurunnya persediaan emas di negara-negara lain tersebut, baik Inggris maupun Jerman akan sangat mudah tergoda untuk mencetak uang untuk membayar hutang-hutang mereka tersebut. Pada bab-bab berikutnya akan kita bahas bagaimana pencetakan uang yang berlebihan dapat membawa kehancuran ekonomi negara. Demikianlah kurs mata uang seluruh negara-negara penandatangan kesepakatan Bretton Woods dipatok dengan kurs tetap terhadap dollar Amerika, yang secara efektif berarti juga dipatok tetap terhadap emas. Keputusan ini dicapai oleh negara-negara pendukung Bretton Woods untuk menghindari terjadinya inflasi tak terkendali di negara mereka akibat pencetakan uang yang berlebihan.

Jadi dari situasi ini kita dapat menelusuri bahwa ada kaitan sejarah yang menyebabkan timbulnya pepatah bahwa emas adalah uang yang benar. Dalam sistem Bretton Woods setelah perang dunia kedua, maka pepatah ini adalah benar. Namun harus diingat pula bahwa pada tahun 1971, pemerintah Amerika melepaskan kaitan mata uangnya dengan emas yang artinya saat ini nilai intrinsik uang sudah bukan lagi dibatasi oleh nilai intrinsik emas.

Dalam kondisi kurs dollar yang dipatok dengan emas, perbaikan ekonomi baik di Jerman maupun Ingris dan negara lainnya mengakibatkan peningkatan ekspor dari negara-negara tersebut ke Amerika. Ekspor tersebut akan mengakibatkan mengalirnya dollar Amerika ke negara mereka. Uang dollar yang mereka terima ini tidak digunakan untuk melakukan transaksi di negara tersebut, yang artinya uang tersebut hanya diam menganggur dan tak dapat digunakan. Akibatnya dollar yang mereka terima dari Amerika lalu dikonversikan dengan segera menjadi emas. Arus pengeluaran emas ini sangat besar sampai-sampai stok emas yang dimiliki Amerika menurun dengan drastis. Puncak arus keluar ini terjadi di tahun 1971, dimana kebutuhan pendanaan perang Vietnam yang besar dan anggaran negara yang defisit mengakibatkan jumlah uang dollar yang beredar di pasar menjadi sedemikian besar dan stok emas yang tersedia tidak lagi mencukupi untuk mengkonversi seluruh jumlah uang yang beredar. Akibatnya Amerika pun memutuskan untuk menghentikan kebijakan kurs dollarnya yang dipatok kepada emas. Kesepakatan Bretton Woods pun kemudian berakhir, dan kurs dollar Amerika mengambang bebas terhadap emas.

Kita dapat mengambil kesetaraan kasus Amerika ini dengan mata uang Rupiah Indonesia. Dollar Amerika yang dilandasi oleh emas ternyata mengalami kesulitan dalam mengkonversi seluruh uang dollarnya menjadi emas. Tidak ada cukup emas yang dimiliki Amerika untuk mengkonversi semua uang dollarnya. Situasi ini sama dengan mata uang Rupiah yang nilainya selalu diupayakan stabil dengan dollar Amerika. Masalahnya pun sama, yakni bahwa negara Indonesia tidak memiliki cukup banyak dollar Amerika untuk dapat mengkonversikan seluruh uang Rupiah yang ada beredar di masyarakat.

Akibatnya jelas, sama seperti pemerintah Amerika yang melepaskan patokannya kursnya ke emas, demikian pulalah Indonesia telah melepaskan patokan nilai Rupiahnya terhadap dollar Amerika. Namun bila ada satu hikmah yang dapat kita ambil, dengan melihat bahwa Amerika masih bisa terus maju walaupun ia harus melepaskan patokan uangnya dengan emas, kita pun perlu berbesar hati bahwa perekonomian Indonesia masih bisa maju walaupun kurs Rupiah dengan Dollar Amerika sering bergejolak tidak menentu.

Secara prinsip, nyaris tak ada alasan kuat yang menyatakan bahwa emas adalah suatu kebutuhan utama yang tak dapat dihindarkan. Nilai intrinsik emas terdapat pada keindahan dan daya tahan karatnya. Nilai intrinsik ini sudah tidak lagi mampu mendukung perkembangan produktifitas seluruh masyarakat. Kemampuan pengolahan metal sudah bukan lagi berada di garis terdepan kemajuan teknologi. Manusia memang memerlukan logam untuk membangun roket untuk terbang ke bulan, tapi logam itu sendiri tidak sanggup membuat roket tersebut melesat ke bulan. Pengetahuan pengobatan dan genetika mahluk hidup sudah maju melebihi standar 30 tahun yang lalu, dan kemampuan ini tidak berdasar pada kemampuan pengolahan logam. Produktifitas manusia dan masyarakat sudah tidak dapat lagi diukur dengan menggunakan logam. Jumlah logam di dalam bumi ini tidak cukup untuk merepresentasikan daya produksi seluruh masyarakat.

Tingginya harga emas saat ini lebih diakibatkan oleh ingatan jangka panjang manusia yang menganggap kepemilikan emas sebagai bentuk pencapaian tertinggi. Sampai sekarang pun masih banyak orang yang bernostalgia dan rupanya ingin kembali lagi menerapkan sistem Bretton Woods dengan standar uang emasnya. Seharusnya jika banyak orang mulai melepaskan ketergantungannya atas emas, agregat permintaan atas logam emas akan turun drastis. Emas akan lebih banyak digunakan sebagai perhiasan atau karena karakteristik konduksi listriknya yang baik. Pepatah yang menyatakan bahwa uang yang sebenarnya adalah emas seharusnya sudah tidak berlaku lagi.

Krisis ekonomi dan resesi ekonomi membawa ingatan masyarakat pada sistem ekonomi kuno yang menggunakan emas sebagai alat tukar. Jika krisis ini dapat kita tepis dan perekonomian tidak lagi mundur ke kondisi ekonomi terbelakang, permintaan atas emas seharusnya akan turun dan harga pun akan kembali merefleksikan nilai intrinsik logamnya, dan bukannya fungsi emas sebagai alat pembayaran.

Menentukan nilai intrinsik mata uang sebuah negara tentu tidak semudah menentukan nilai intrinsik emas. Nilai intrinsik emas jelas lebih mudah diketahui sebab besarannya dapat diketahui. Misalnya saja dengan mengukur beratnya, atau juga kemurnian atau besaran karat dari emas tersebut. Namun toh harga yang diberikan atas nilai intrinsik ini bisa bergerak naik turun seiring dengan besarnya penawaran dan besarnya permintaan atas emas. Satu ounce emas yang sama bisa berharga $800 di satu saat sementara di saat lain harganya malah cuma $400. Maka sungguh sangat mustahil bila ada beberapa pihak yang misalnya mengklaim nilai mata uang suatu negara harusnya cuma sebesar ini atau itu karena seseorang tersebut dapat menentukan nilai intrinsik mata uang negara tersebut.

Menentukan nilai intrinsik mata uang sebuah negara adalah sangat sulit, bahkan bisa dibilang mustahil dilakukan. Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi nilai intrinsik suatu mata uang, mulai dari situasi politik negaranya, tingkat kriminalitas, kemacetan, kebersihan lingkungan, kesegaran udara dan airnya, kestabilan pasokan listriknya, tingkat pendidikan seluruh penduduk, terobosan inovasi yang berhasil dikembangkan di negara itu, bahkan juga tingkat kepercayaan konsumen atas perkembangan situasi ekonomi. Jadi bagaimana mungkin kita dapat menentukan nilai intrinsik suatu mata uang jika ada begitu banyak komponen yang mustahil kita telusuri satu demi satu. Jangan kata berbicara tingkat kepercayaan ataupun situasi politik, bila kita berfokus hanya pada sektor ekonomi pun, ada begitu banyak variabel tak terukur yang berpotensi menentukan nilai intrinsik mata uang negara. Banyak ekonom yang kesulitan mengukur produktifitas sektor jasa sebab produk yang dihasilkannya bukanlah barang tangible, melainkan servis yang sifatnya intangible. Bagaimanakah kita bisa mengukur efektifitas salon yang membuat orang “merasa” lebih cantik, atau lebih “merasa lebih bahagia”? Apakah yang bisa kita gunakan untuk mengukur kebahagiaan?

Jadi kita simpulkan bahwa berdasar sejarah emas memang sempat populer sebagai bentuk uang. Namun mata uang suatu negara seharusnya lebih menunjukkan kapasitas ekonomi negara tersebut. Mengukur nilai intrinsik mata uang suatu negara adalah sangat sulit. Solusi cepat yang dapat diberikan ekonom untuk masalah ini adalah dengan melemparkannya kepada pasar, agar “pasar” menentukan nilai mata uang tersebut. Pasar yang dimaksud adalah suatu kumpulan kolektif dimana seluruh partisipan membentuk harga dengan memasang order beli dan jual untuk mencari nilai keseimbangan atau ekuilibrium harga. Jadi dari sistem ini kemudian didapatlah suatu harga, misalnya untuk membeli 1 USD diperlukan Rp 10.000, atau untuk membeli 1 EUR diperlukan 1,4 USD.

Satu-satunya uang yang benar adalah emas, Benar atau Salah? - 2

Emas menjadi uang

Pada sistem ekonomi yang sangat primitif, transaksi barter sudah dapat mencukupi untuk mengakomodasi kebutuhan seluruh penduduk desa tersebut. Seiring dengan meningkatnya jumlah peserta ekonomi yang bertransaksi, mereka akan mendapati bahwa beberapa barang tertentu lebih mudah dipertukarkan dengan barang lainnya, atau dengan kata lain lebih likuid. Diantara beberapa barang yang likuid untuk dibarterkan tersebut, ada barang yang mudah menjadi busuk sementara barang lainnya tahan lama. Sementara barang jenis satu lebih mudah dibagi menjadi unit yang lebih kecil dibandingkan dengan barang jenis lainnya yang tak bisa dibagi.

Dengan semakin banyaknya transaksi akhirnya didapatilah bahwa logam akhirnya muncul sebagai barang yang paling mudah digunakan untuk bertransaksi, dan dengan demikian secara faktual berubah fungsi menjadi alat pembayaran transaksi.

Kita bisa berbicara dan menganalisa tentang alasan sejarah mengapa emas dipilih sebagai uang. Atau pula kita bisa mengemukakan alasan filosofis tentang betapa mulianya uang tersebut, dan bahwa warna keemasan logam adalah serupa dengan warna matahari. Bisa saja kita kemukakan teori bahwa pada jaman dahulu, emas dipilih karena dianggap merupakan bahan yang sama dengan material pembentuk matahari. Namun pada akhirnya bila kita dihadapkan pada pilihan tentang apa yang perlu digunakan untuk menjadi uang, maka hanya ada satu pertimbangan terpenting yang harus dilakukan dalam menentukan pemilihan ini.

Yang harus kita perhatikan dan kita beri bobot terbesar dalam menentukan pilihan adalah pertanyaan “seberapa luaskah mata uang ini diterima di masyarakat?” Akan sangat sulit bagi kita untuk mencari titik awal atau kebudayaan mana yang memulai penggunaan mata uang emas. Kita bisa berspekulasi barangkali pola ini diawali oleh seorang raja yang terpesona dengan kemilau emas sehingga raja tersebut meminta pajak emas dari rakyatnya. Ataukah mungkin dari para pedagang dan pelaut yang memandang tinggi nilai emas ini karena logam ini tidak berkarat, walaupun selalu basah terkena udara laut. Sekali lagi semua itu hanyalah teori. Yang jelas, setiap orang didunia ini pasti menggunakan suatu mata uang tertentu karena pengaruh orang-orang disekitarnya. Suatu komunitas yang sama akan menggunakan uang yang sama.

Mari kita lihat, dimanapun juga seseorang dilahirkan, maka dapat dipastikan ia akan menggunakan mata uang daerahnya itu untuk pertama kalinya. Kita yang lahir di Indonesia akan menggunakan Rupiah, sementara Hillary Clinton menggunakan Dollar Amerika. Penduduk Mesir jaman purba dulunya menggunakan uang tanah liat, sementara penduduk Inggris menggunakan uang Pundsterling. Dalam pilihan perdagangan internasional pun prinsip yang sama kemudian berlaku. Bila kita bertanya mengapa kita menggunakan pembayaran dollar untuk barang-barang ekspor dan impor negara kita, maka jawaban yang jelas adalah bahwa karena dunia internasional sebagian besar menggunakan mata uang dollar (Amerika) tersebut.

Jadi demikianlah maka penggunaan emas, perak, ataupun tembaga sebagai uang adalah suatu lingkungan operasi yang sudah berlangsung secara alami (a given environment), suatu hasil dari suatu proses pemilihan yang panjang. Karena itulah para ekonom kemudian selalu membahas teorinya tanpa menyebutkan apakah ekonomi tersebut menggunakan uang ataukah masih bersifat barter, ataukah jenis uang apa yang digunakan dalam perekonomian yang dibahasnya.

Teori ekonomi selalu didasari pada kondisi dimana transaksi dengan uang itu sudah berjalan dan sistem ini sudah menggunakan uang (emas/logam) sebagai mata uang pilihan. Negara, masyarakat, ataupun individu yang ingin melakukan transaksi ekonomi dan jual beli, mau tidak mau harus menceburkan diri dalam sistem yang menggunakan uang emas ini. Jadi walaupun secara pribadi seseorang berpendapat bahwa emas tidak memiliki nilai intrinsiknya sendiri, jika ia memiliki kebutuhan yang perlu dibayar dengan emas kepada masyarakat (misalnya ke dokter atau membeli mobil), maka ia juga harus mengumpulkan emas untuk nantinya dibelanjakan.

Dari sini kita bisa mengetahui dan mengambil kesimpulan bahwa uang adalah produk komunitas, dimana dengan uang seseorang dapat melakukan interaksi ekonomi dengan anggota masyarakat lain. Tidaklah heran kemudian bila prinsip-prinsip keberhasilan bisnis yang paling mendasar adalah berkaitan dengan prinsip untuk membangun hubungan baik. Misalnya membina hubungan yang baik dengan pemasok, membina hubungan dan memperhatikan pelanggan, semuanya itulah yang menjadi dasar sukses dari perusahaan-perusahaan besar. Kita contohkan saja SAP, perusahaan program komputer ini berupaya mengatur interaksi antar departemen seefisien mungkin dengan menganggap departemen satu sebagai pelanggan departemen (cabang) lainnya. Bahkan dalam era internet juga telah dikembangkan sistem-sistem yang berupaya untuk mengerti karakteristik pasar (konsumen) agar perusahaan dapat menyediakan produk-produk yang lebih baik lagi.

Selain alasan bahwa uang emas sudah luas diterima dan digunakan masyarakat, ada pula alasan lain yang mendukung penggunaan emas (secara historis) sebagai substansi uang. Pertama karena logam itu sulit didapat, dan juga karena emas dapat dipecah menjadi unit yang besar kecilnya dapat disesuaikan. Logam, terutama emas sangat tahan lama dan kualitasnya tidak berubah atau berkarat. Keindahan dan kemilau emas yang memukau, ditambah lagi dengan karakteristiknya yang tahan karat ini kemudian membuat emas dan logam mulia lainnya memiliki nilai lebih tinggi dari logam lainnya.


Emas/Logam adalah produk teknologi termoderen pada jaman dahulu
Dengan pengetahuan dasar yang kita miliki saat ini, kita sering terkagum-kagum dengan produk emas ataupun logam yang dihasilkan dari pertambangan. Sungguh sulit dimengerti bagaimana puluhan ton tanah bercampur bijih besi ataupun bijih logam (iron ore) dapat dipisahkan dari tanah tersebut. Bila kita bisa memahami kompleksitas proses penyaringan dan pemurnian logam dan betapa tingginya teknologi dan pengetahuan yang diperlukan untuk mendapatkan satu kilogram logam, maka kita akan maklum mengapa komunitas purba kemudian memilih logam sebagai material penting yang dapat ditukarkan dengan hampir segala macam barang. Karena banyaknya permintaan masyarakat atas logam inilah maka emas atau logam-logam ini kemudian berubah fungsi menjadi uang.

Demikianlah maka dapat diteorikan bahwa alasan utama dipilihnya logam menjadi alat pembayaran adalah karena kemampuan mengolah logam dan menambang logam dari perut bumi adalah bentuk teknologi yang paling muktahir dari masyarakat tersebut. Teknologi ini begitu bermanfaat dan sangat dibutuhkan oleh banyak manusia sehingga logam yang dihasilkan tersebut mudah diterima masyarakat untuk ditukarkan dengan barang-barang kebutuhan lainnya.

Jadi argumentasi inilah yang kiranya tepat menjadi jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan di awal bab satu ini. Kita bisa jawab bahwa pada jaman dahulu, memang benar emas merupakan suatu bentuk uang yang sangat unggul sehingga dalam banyak kasus emas inilah yang menjadi uang yang benar. Ini tidak berarti emas adalah satu-satunya uang yang benar. Kita bisa membawa emas ini pada jaman kerajaan Mesir yang sedang dilanda kelaparan. Lalu kita bisa bertanya, uang manakah yang lebih benar, manakah yang nilainya lebih kuat? Apakah tanah liat yang ekuivalen dengan gandum, ataukah emas yang lebih tahan lama dan berteknologi tinggi? Jika kita telaah dari catatan kitab suci tentang nabi Yunus, disebutkanlah bahwa peternak maupun pedagang semuanya menyerahkan emas perak dan kepunyaannya untuk memperoleh gandum di jaman kekeringan tersebut. Ini berarti pada saat itu, gandum/uang tanah liat tersebut memiliki nilai permintaan yang lebih kuat dan uan tanah liat tersebutlah yang dikenal sebagai uang yang benar.

Demikianlah uang bisa dibuat dalam berbagai macam bentuk dan substansi. Dan untuk mengetahui benar tidaknya, atau kuat tidaknya uang tersebut, yang terpenting adalah mengetahui nilai apa yang terkandung di dalam uang tersebut serta situasi kondisi yang membuat timbulnya permintaan atas suatu bentuk uang tertentu.

Satu-satunya uang yang benar adalah emas, Benar atau Salah? - 1

Emas adalah uang, benarkah?

(Apa yang membuat emas menjadi uang, dan apa yang membuat uang kertas menjadi uang juga?)


Apa yang kita terima sejak lahir seolah-olah sudah menjadi sesuatu yang biasa. Misalnya saja sejak lahir sebagian kita selalu menggunakan uang kertas atau melakukan transfer uang lewat bank sebagai metode pembayaran dan transaksi ekonomi. Namun bila kita telusuri lebih dalam, seringkali bisa kita dapati bahwa suatu keadaan yang kesannya alami ternyata adalah hasil dari sebuah proses yang panjang. Demikianlah pula dengan masalah uang. Kita bisa bertanya, mengapakah kita perlu menggunakan uang untuk membeli ini dan itu? Dan mengapa pula kurs uang rupiah kita selalu dihubung-hubungkan dengan dollar Amerika? Kenapa pula uang itu berbentuk kertas, dan kenapa juga kita tidak dapat mencetaknya sendiri?

Dari catatan sejarah lah kita bisa belajar bahwa uang seperti yang kita kenal sekarang ini tidaklah selamanya berbentuk uang kertas yang kita ketahui sekarang. Mungkinkah kita bisa mendapatkan suatu penjelasan atas pertanyaan tersebut dari sejarah perkembangan uang?

Kita semua jelas tahu bahwa sejarah mencatat tentang digunakannya emas sebagai alat pembayaran (uang). Dalam pikiran banyak generasi muda, kata emas hanyalah berbicara tentang perhiasan, keindahan, dan aksesoris atau bahan logam pelengkap busana dan lambang kekayaan. Tak pernah tercetus dalam pikiran untuk membayarkan semangkuk bakso kuah dengan menggunakan secuil emas. Apa perlunya kita bersusah payah mengukur berat emas di timbangan bila ada selembar uang kertas dengan angka Rp5.000 yang dapat digunakan untuk membayarkannya. Namun banyak pepatah dalam bidang keuangan dan pasar modal yang justru mengatakan bahwa mata uang yang benar adalah emas. Apakah dengan demikian kita sudah menipu pedagang bakso dengan membayarkan uang kertas 5000 rupiah dan bukannya dengan setengah gram emas? Ataukah pepatah ini hanya merupakan sisa-sisa sejarah yang sudah tidak relevan lagi di jaman modern ini?

Beberapa contoh komunitas yang tidak menggunakan uang emas.

Penelitian arkeologi mendapati bahwa uang dapat mengambil berbagai bentuk. Ada budaya yang menggunakan bulu angsa sebagai uang. Ada pula bangsa yang menggunakan cangkang kerang laut sebagai uang. Sementara budaya lainnya menggunakan kepingan tanah liat sebagai uang. Yang dimaksud dengan uang dalam hal ini adalah alat tukar dalam transaksi ekonomi.

Penelitian arkeologi mesir kuno mendapatkan bahwa masyarakat jaman itu menggunakan kepingan tanah liat sebagai alat transaksi ekonomi. Kepingan tanah liat ini adalah tanda terima penyimpanan gandum di Mesir. Berarti setiap keping uang tersebut memiliki landasan nilai yang didukung oleh nilai gandum. Kepingan tanah liat itu sendiri sebenarnya tidak ada harganya. Bila hubungannya dengan nilai gandum itu dipisahkan, sekeping tanah liat adalah sekeping tanah liat yang tak berharga. Namun rupanya masyarakat Mesir menggunakan kepingan itu sebagai uang dengan memberikan nilai gandum pada kepingan tersebut. Pemegang kepingan tanah liat tersebut dapat menukarkannya dengan gandum ke gudang Firaun. Diperkirakan bahwa sistem uang yang seperti ini tercipta karena adanya masa-masa kemarau yang panjang, bahkan ada kemungkinan dimulai sejak jaman Nabi Yusuf di Mesir yang telah mampu mengatur 7 tahun kelimpahan dan menyimpankan gandum-gandum tersebut untuk mengantisipasi 7 tahun kelaparan.

Penduduk yang memang membutuhkan gandum untuk makan tentu dapat menukarkan kepingan tanah liat ini dengan gandum yang disimpan di gudang Raja Mesir. Namun bila ia memiliki gandum yang berlebih, orang tersebut dapat menukarkannya dengan barang atau jasa lain dari pedagang-pedagang Mesir lainnya. Dan karena situasi kelaparan dan kekeringan inilah, kepingan tanah liat ini (lebih tepatnya lagi gandum yang menjadi dasar nilainya), sudah berubah menjadi substansi yang sangat berharga di masyarakat.

Sementara itu pula Hughes dalam bukunya (“Good Money after Bad: Inflation and devaluation in the colonial process” -1978) mencatat bahwa kerang pantai digunakan sebagai alat pembayaran oleh suatu suku penduduk pedalaman New Guinea. Cangkang kerang yang indah ini disediakan oleh penduduk pesisir pantai, kemudian mereka membawanya ke atas gunung untuk ditukarkan dengan barang-barang yang diproduksi oleh penduduk pedalaman New Guinea.

Lalu datanglah pedagang Eropa dan Tentara Eropa yang di tempatkan di pedalaman untuk menahan serbuan Jepang pada masa Perang Dunia ke-2. Mereka menemukan bahwa cangkang kerang tersebut berarti uang. Mereka kemudian meminta bantuan logistik dan tenaga kerja dari suku tersebut dan membayarkannya dengan cangkang kerang juga. Catatan pengiriman dan pengapalan kerang yang dikirimkan dari Inggris dan Australia ke pegunungan New Guinea pada masa itu menunjukkan bahwa kerang-kerang tersebut digunakan untuk membayar gaji penduduk pribumi tersebut.

Dengan satu biji kerang putih, penduduk desa tersebut bersedia untuk bekerja selama satu bulan penuh. Sementara jenis kerang lain, yakni kerang mutiara dan kerang keemasan dianggap lebih berharga dari kerang putih. Dari antara semuanya, kerang emaslah yang memiliki nilai tertinggi. Dicatat pula bahwa celeng hutan memiliki harga yang sangat tinggi bagi penduduk New Guinea tersebut. Barangkali bisa kita bandingkan dengan satu suku di Indonesia yang memandang kerbau sebagai bentuk kekayaan yang sangat tinggi, sampai-sampai mereka menggunakan kepala kerbau tersebut sebagai ornamen rumah untuk menunjukkan status. Untuk celeng hutan ini, penduduk New Guinea tersebut memerlukan setidaknya segenggam penuh kerang atau berarti beberapa bulan kerja untuk dapat membelinya.

Ada satu kesimpulan menarik dari catatan pengiriman kerang yang dikapalkan oleh Inggris/Australia ini. Semakin lama Inggris berhubungan dengan suku tersebut semakin banyak perdagangan yang terjadi. Namun jumlah uang yang diperlukan untuk membeli barang-barang tersebut akhirnya juga semakin banyak. Fenomena ini dikenal sekarang dengan nama inflasi. Yang tadinya hanya memerlukan satu kontainer kerang untuk menyiapkan suplai selama satu periode akhirnya bertambah menjadi dua kontainer. Penyebabnya adalah karena jumlah uang yang sampai ke pedalaman itu ternyata meningkat banyak akibat kedatangan orang-orang Inggris tersebut. Peningkatan ini jauh melebihi arus normal pertambahan kerang yang dulunya hanya disediakan oleh penduduk pesisir pantai New Guinea tersebut.

Bila dibandingkan dengan uang cangkang kerang dan lempengan tanah liat, maka penggunaan logam emas sebagai mata uang pembayaran sudah lebih umum digunakan di banyak masyarakat. Tidak ada yang tahu pasti kapan dimulainya penggunaan emas ini sebagai uang. Kitab suci mencatat bahwa emas sudah ada dan digunakan sebagai perhiasan di jaman Nabi Musa di Mesir, namun tidak jelas apakah emas ini pula sudah digunakan sebagai uang.