Sunday, August 2, 2009

Satu-satunya uang yang benar adalah Emas, Benar atau Salah? -Part3

Bretton Woods, Standar Emas, dan Kurs Mengambang

Dengan landasan inilah kita dapat melihat bahwa nilai intrinsik suatu mata uang sebuah negara sangat terkait dengan kemampuan, pengetahuan, dan produktifitas warga negara tempat digunakannya mata uang tersebut. Pada jaman era tahun 1945 pun logam masih memegang peran penting. Tanpa logam, pihak sekutu tidak akan mampu membendung ambisi jahat Hitler. Mesin-mesin perang semuanya memerlukan komponen logam yang sangat tinggi. Dan harus diakui pula bahwa kemampuan teknis dalam mengolah metal ini sudah sedemikian tinggi sehingga mereka dapat membuat gumpalan besi yang berat untuk terangkat dan terbang di udara. Dengan demikian wajarlah bila pada masa itu pemimpin dunia pasca perang dunia kedua mengambil kesepakatan Bretton Woods, yaitu untuk kembali mematok seluruh mata uang dunia kepada emas.

Kesepakatan Bretton Woods ini mematok tetap mata uang seluruh negara-negara dunia dengan dollar Amerika (fixed exchange rate). Sementara di saat yang sama, kurs dollar Amerika juga dipatok tetap dengan emas, yakni $35 untuk tiap ounce emas. Ini berarti secara keseluruhan seluruh penduduk dunia menggunakan emas sebagai standar uang pada saat itu.

Kesepakatan ini diambil karena pada akhir masa perang dunia ke-dua tersebut hanya Amerikalah yang memiliki jumlah emas terbanyak di dunia. Negara Inggris, Jerman, Prancis dan Rusia, semuanya telah menggunakan seluruh emas mereka untuk mendanai perang. Negara Inggris memiliki banyak hutang akibat banyaknya persenjataan yang mereka impor dari Amerika. Demikianlah sebagian besar emas dunia berakhir di tangan Amerika.

Dengan menurunnya persediaan emas di negara-negara lain tersebut, baik Inggris maupun Jerman akan sangat mudah tergoda untuk mencetak uang untuk membayar hutang-hutang mereka tersebut. Pada bab-bab berikutnya akan kita bahas bagaimana pencetakan uang yang berlebihan dapat membawa kehancuran ekonomi negara. Demikianlah kurs mata uang seluruh negara-negara penandatangan kesepakatan Bretton Woods dipatok dengan kurs tetap terhadap dollar Amerika, yang secara efektif berarti juga dipatok tetap terhadap emas. Keputusan ini dicapai oleh negara-negara pendukung Bretton Woods untuk menghindari terjadinya inflasi tak terkendali di negara mereka akibat pencetakan uang yang berlebihan.

Jadi dari situasi ini kita dapat menelusuri bahwa ada kaitan sejarah yang menyebabkan timbulnya pepatah bahwa emas adalah uang yang benar. Dalam sistem Bretton Woods setelah perang dunia kedua, maka pepatah ini adalah benar. Namun harus diingat pula bahwa pada tahun 1971, pemerintah Amerika melepaskan kaitan mata uangnya dengan emas yang artinya saat ini nilai intrinsik uang sudah bukan lagi dibatasi oleh nilai intrinsik emas.

Dalam kondisi kurs dollar yang dipatok dengan emas, perbaikan ekonomi baik di Jerman maupun Ingris dan negara lainnya mengakibatkan peningkatan ekspor dari negara-negara tersebut ke Amerika. Ekspor tersebut akan mengakibatkan mengalirnya dollar Amerika ke negara mereka. Uang dollar yang mereka terima ini tidak digunakan untuk melakukan transaksi di negara tersebut, yang artinya uang tersebut hanya diam menganggur dan tak dapat digunakan. Akibatnya dollar yang mereka terima dari Amerika lalu dikonversikan dengan segera menjadi emas. Arus pengeluaran emas ini sangat besar sampai-sampai stok emas yang dimiliki Amerika menurun dengan drastis. Puncak arus keluar ini terjadi di tahun 1971, dimana kebutuhan pendanaan perang Vietnam yang besar dan anggaran negara yang defisit mengakibatkan jumlah uang dollar yang beredar di pasar menjadi sedemikian besar dan stok emas yang tersedia tidak lagi mencukupi untuk mengkonversi seluruh jumlah uang yang beredar. Akibatnya Amerika pun memutuskan untuk menghentikan kebijakan kurs dollarnya yang dipatok kepada emas. Kesepakatan Bretton Woods pun kemudian berakhir, dan kurs dollar Amerika mengambang bebas terhadap emas.

Kita dapat mengambil kesetaraan kasus Amerika ini dengan mata uang Rupiah Indonesia. Dollar Amerika yang dilandasi oleh emas ternyata mengalami kesulitan dalam mengkonversi seluruh uang dollarnya menjadi emas. Tidak ada cukup emas yang dimiliki Amerika untuk mengkonversi semua uang dollarnya. Situasi ini sama dengan mata uang Rupiah yang nilainya selalu diupayakan stabil dengan dollar Amerika. Masalahnya pun sama, yakni bahwa negara Indonesia tidak memiliki cukup banyak dollar Amerika untuk dapat mengkonversikan seluruh uang Rupiah yang ada beredar di masyarakat.

Akibatnya jelas, sama seperti pemerintah Amerika yang melepaskan patokannya kursnya ke emas, demikian pulalah Indonesia telah melepaskan patokan nilai Rupiahnya terhadap dollar Amerika. Namun bila ada satu hikmah yang dapat kita ambil, dengan melihat bahwa Amerika masih bisa terus maju walaupun ia harus melepaskan patokan uangnya dengan emas, kita pun perlu berbesar hati bahwa perekonomian Indonesia masih bisa maju walaupun kurs Rupiah dengan Dollar Amerika sering bergejolak tidak menentu.

Secara prinsip, nyaris tak ada alasan kuat yang menyatakan bahwa emas adalah suatu kebutuhan utama yang tak dapat dihindarkan. Nilai intrinsik emas terdapat pada keindahan dan daya tahan karatnya. Nilai intrinsik ini sudah tidak lagi mampu mendukung perkembangan produktifitas seluruh masyarakat. Kemampuan pengolahan metal sudah bukan lagi berada di garis terdepan kemajuan teknologi. Manusia memang memerlukan logam untuk membangun roket untuk terbang ke bulan, tapi logam itu sendiri tidak sanggup membuat roket tersebut melesat ke bulan. Pengetahuan pengobatan dan genetika mahluk hidup sudah maju melebihi standar 30 tahun yang lalu, dan kemampuan ini tidak berdasar pada kemampuan pengolahan logam. Produktifitas manusia dan masyarakat sudah tidak dapat lagi diukur dengan menggunakan logam. Jumlah logam di dalam bumi ini tidak cukup untuk merepresentasikan daya produksi seluruh masyarakat.

Tingginya harga emas saat ini lebih diakibatkan oleh ingatan jangka panjang manusia yang menganggap kepemilikan emas sebagai bentuk pencapaian tertinggi. Sampai sekarang pun masih banyak orang yang bernostalgia dan rupanya ingin kembali lagi menerapkan sistem Bretton Woods dengan standar uang emasnya. Seharusnya jika banyak orang mulai melepaskan ketergantungannya atas emas, agregat permintaan atas logam emas akan turun drastis. Emas akan lebih banyak digunakan sebagai perhiasan atau karena karakteristik konduksi listriknya yang baik. Pepatah yang menyatakan bahwa uang yang sebenarnya adalah emas seharusnya sudah tidak berlaku lagi.

Krisis ekonomi dan resesi ekonomi membawa ingatan masyarakat pada sistem ekonomi kuno yang menggunakan emas sebagai alat tukar. Jika krisis ini dapat kita tepis dan perekonomian tidak lagi mundur ke kondisi ekonomi terbelakang, permintaan atas emas seharusnya akan turun dan harga pun akan kembali merefleksikan nilai intrinsik logamnya, dan bukannya fungsi emas sebagai alat pembayaran.

Menentukan nilai intrinsik mata uang sebuah negara tentu tidak semudah menentukan nilai intrinsik emas. Nilai intrinsik emas jelas lebih mudah diketahui sebab besarannya dapat diketahui. Misalnya saja dengan mengukur beratnya, atau juga kemurnian atau besaran karat dari emas tersebut. Namun toh harga yang diberikan atas nilai intrinsik ini bisa bergerak naik turun seiring dengan besarnya penawaran dan besarnya permintaan atas emas. Satu ounce emas yang sama bisa berharga $800 di satu saat sementara di saat lain harganya malah cuma $400. Maka sungguh sangat mustahil bila ada beberapa pihak yang misalnya mengklaim nilai mata uang suatu negara harusnya cuma sebesar ini atau itu karena seseorang tersebut dapat menentukan nilai intrinsik mata uang negara tersebut.

Menentukan nilai intrinsik mata uang sebuah negara adalah sangat sulit, bahkan bisa dibilang mustahil dilakukan. Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi nilai intrinsik suatu mata uang, mulai dari situasi politik negaranya, tingkat kriminalitas, kemacetan, kebersihan lingkungan, kesegaran udara dan airnya, kestabilan pasokan listriknya, tingkat pendidikan seluruh penduduk, terobosan inovasi yang berhasil dikembangkan di negara itu, bahkan juga tingkat kepercayaan konsumen atas perkembangan situasi ekonomi. Jadi bagaimana mungkin kita dapat menentukan nilai intrinsik suatu mata uang jika ada begitu banyak komponen yang mustahil kita telusuri satu demi satu. Jangan kata berbicara tingkat kepercayaan ataupun situasi politik, bila kita berfokus hanya pada sektor ekonomi pun, ada begitu banyak variabel tak terukur yang berpotensi menentukan nilai intrinsik mata uang negara. Banyak ekonom yang kesulitan mengukur produktifitas sektor jasa sebab produk yang dihasilkannya bukanlah barang tangible, melainkan servis yang sifatnya intangible. Bagaimanakah kita bisa mengukur efektifitas salon yang membuat orang “merasa” lebih cantik, atau lebih “merasa lebih bahagia”? Apakah yang bisa kita gunakan untuk mengukur kebahagiaan?

Jadi kita simpulkan bahwa berdasar sejarah emas memang sempat populer sebagai bentuk uang. Namun mata uang suatu negara seharusnya lebih menunjukkan kapasitas ekonomi negara tersebut. Mengukur nilai intrinsik mata uang suatu negara adalah sangat sulit. Solusi cepat yang dapat diberikan ekonom untuk masalah ini adalah dengan melemparkannya kepada pasar, agar “pasar” menentukan nilai mata uang tersebut. Pasar yang dimaksud adalah suatu kumpulan kolektif dimana seluruh partisipan membentuk harga dengan memasang order beli dan jual untuk mencari nilai keseimbangan atau ekuilibrium harga. Jadi dari sistem ini kemudian didapatlah suatu harga, misalnya untuk membeli 1 USD diperlukan Rp 10.000, atau untuk membeli 1 EUR diperlukan 1,4 USD.

No comments:

Post a Comment