Sunday, August 2, 2009

Satu-satunya uang yang benar adalah emas, Benar atau Salah? - 1

Emas adalah uang, benarkah?

(Apa yang membuat emas menjadi uang, dan apa yang membuat uang kertas menjadi uang juga?)


Apa yang kita terima sejak lahir seolah-olah sudah menjadi sesuatu yang biasa. Misalnya saja sejak lahir sebagian kita selalu menggunakan uang kertas atau melakukan transfer uang lewat bank sebagai metode pembayaran dan transaksi ekonomi. Namun bila kita telusuri lebih dalam, seringkali bisa kita dapati bahwa suatu keadaan yang kesannya alami ternyata adalah hasil dari sebuah proses yang panjang. Demikianlah pula dengan masalah uang. Kita bisa bertanya, mengapakah kita perlu menggunakan uang untuk membeli ini dan itu? Dan mengapa pula kurs uang rupiah kita selalu dihubung-hubungkan dengan dollar Amerika? Kenapa pula uang itu berbentuk kertas, dan kenapa juga kita tidak dapat mencetaknya sendiri?

Dari catatan sejarah lah kita bisa belajar bahwa uang seperti yang kita kenal sekarang ini tidaklah selamanya berbentuk uang kertas yang kita ketahui sekarang. Mungkinkah kita bisa mendapatkan suatu penjelasan atas pertanyaan tersebut dari sejarah perkembangan uang?

Kita semua jelas tahu bahwa sejarah mencatat tentang digunakannya emas sebagai alat pembayaran (uang). Dalam pikiran banyak generasi muda, kata emas hanyalah berbicara tentang perhiasan, keindahan, dan aksesoris atau bahan logam pelengkap busana dan lambang kekayaan. Tak pernah tercetus dalam pikiran untuk membayarkan semangkuk bakso kuah dengan menggunakan secuil emas. Apa perlunya kita bersusah payah mengukur berat emas di timbangan bila ada selembar uang kertas dengan angka Rp5.000 yang dapat digunakan untuk membayarkannya. Namun banyak pepatah dalam bidang keuangan dan pasar modal yang justru mengatakan bahwa mata uang yang benar adalah emas. Apakah dengan demikian kita sudah menipu pedagang bakso dengan membayarkan uang kertas 5000 rupiah dan bukannya dengan setengah gram emas? Ataukah pepatah ini hanya merupakan sisa-sisa sejarah yang sudah tidak relevan lagi di jaman modern ini?

Beberapa contoh komunitas yang tidak menggunakan uang emas.

Penelitian arkeologi mendapati bahwa uang dapat mengambil berbagai bentuk. Ada budaya yang menggunakan bulu angsa sebagai uang. Ada pula bangsa yang menggunakan cangkang kerang laut sebagai uang. Sementara budaya lainnya menggunakan kepingan tanah liat sebagai uang. Yang dimaksud dengan uang dalam hal ini adalah alat tukar dalam transaksi ekonomi.

Penelitian arkeologi mesir kuno mendapatkan bahwa masyarakat jaman itu menggunakan kepingan tanah liat sebagai alat transaksi ekonomi. Kepingan tanah liat ini adalah tanda terima penyimpanan gandum di Mesir. Berarti setiap keping uang tersebut memiliki landasan nilai yang didukung oleh nilai gandum. Kepingan tanah liat itu sendiri sebenarnya tidak ada harganya. Bila hubungannya dengan nilai gandum itu dipisahkan, sekeping tanah liat adalah sekeping tanah liat yang tak berharga. Namun rupanya masyarakat Mesir menggunakan kepingan itu sebagai uang dengan memberikan nilai gandum pada kepingan tersebut. Pemegang kepingan tanah liat tersebut dapat menukarkannya dengan gandum ke gudang Firaun. Diperkirakan bahwa sistem uang yang seperti ini tercipta karena adanya masa-masa kemarau yang panjang, bahkan ada kemungkinan dimulai sejak jaman Nabi Yusuf di Mesir yang telah mampu mengatur 7 tahun kelimpahan dan menyimpankan gandum-gandum tersebut untuk mengantisipasi 7 tahun kelaparan.

Penduduk yang memang membutuhkan gandum untuk makan tentu dapat menukarkan kepingan tanah liat ini dengan gandum yang disimpan di gudang Raja Mesir. Namun bila ia memiliki gandum yang berlebih, orang tersebut dapat menukarkannya dengan barang atau jasa lain dari pedagang-pedagang Mesir lainnya. Dan karena situasi kelaparan dan kekeringan inilah, kepingan tanah liat ini (lebih tepatnya lagi gandum yang menjadi dasar nilainya), sudah berubah menjadi substansi yang sangat berharga di masyarakat.

Sementara itu pula Hughes dalam bukunya (“Good Money after Bad: Inflation and devaluation in the colonial process” -1978) mencatat bahwa kerang pantai digunakan sebagai alat pembayaran oleh suatu suku penduduk pedalaman New Guinea. Cangkang kerang yang indah ini disediakan oleh penduduk pesisir pantai, kemudian mereka membawanya ke atas gunung untuk ditukarkan dengan barang-barang yang diproduksi oleh penduduk pedalaman New Guinea.

Lalu datanglah pedagang Eropa dan Tentara Eropa yang di tempatkan di pedalaman untuk menahan serbuan Jepang pada masa Perang Dunia ke-2. Mereka menemukan bahwa cangkang kerang tersebut berarti uang. Mereka kemudian meminta bantuan logistik dan tenaga kerja dari suku tersebut dan membayarkannya dengan cangkang kerang juga. Catatan pengiriman dan pengapalan kerang yang dikirimkan dari Inggris dan Australia ke pegunungan New Guinea pada masa itu menunjukkan bahwa kerang-kerang tersebut digunakan untuk membayar gaji penduduk pribumi tersebut.

Dengan satu biji kerang putih, penduduk desa tersebut bersedia untuk bekerja selama satu bulan penuh. Sementara jenis kerang lain, yakni kerang mutiara dan kerang keemasan dianggap lebih berharga dari kerang putih. Dari antara semuanya, kerang emaslah yang memiliki nilai tertinggi. Dicatat pula bahwa celeng hutan memiliki harga yang sangat tinggi bagi penduduk New Guinea tersebut. Barangkali bisa kita bandingkan dengan satu suku di Indonesia yang memandang kerbau sebagai bentuk kekayaan yang sangat tinggi, sampai-sampai mereka menggunakan kepala kerbau tersebut sebagai ornamen rumah untuk menunjukkan status. Untuk celeng hutan ini, penduduk New Guinea tersebut memerlukan setidaknya segenggam penuh kerang atau berarti beberapa bulan kerja untuk dapat membelinya.

Ada satu kesimpulan menarik dari catatan pengiriman kerang yang dikapalkan oleh Inggris/Australia ini. Semakin lama Inggris berhubungan dengan suku tersebut semakin banyak perdagangan yang terjadi. Namun jumlah uang yang diperlukan untuk membeli barang-barang tersebut akhirnya juga semakin banyak. Fenomena ini dikenal sekarang dengan nama inflasi. Yang tadinya hanya memerlukan satu kontainer kerang untuk menyiapkan suplai selama satu periode akhirnya bertambah menjadi dua kontainer. Penyebabnya adalah karena jumlah uang yang sampai ke pedalaman itu ternyata meningkat banyak akibat kedatangan orang-orang Inggris tersebut. Peningkatan ini jauh melebihi arus normal pertambahan kerang yang dulunya hanya disediakan oleh penduduk pesisir pantai New Guinea tersebut.

Bila dibandingkan dengan uang cangkang kerang dan lempengan tanah liat, maka penggunaan logam emas sebagai mata uang pembayaran sudah lebih umum digunakan di banyak masyarakat. Tidak ada yang tahu pasti kapan dimulainya penggunaan emas ini sebagai uang. Kitab suci mencatat bahwa emas sudah ada dan digunakan sebagai perhiasan di jaman Nabi Musa di Mesir, namun tidak jelas apakah emas ini pula sudah digunakan sebagai uang.

No comments:

Post a Comment