Saturday, October 17, 2009

Pemenang Nobel Ekonomi 2009

Elinor Ostrom and Oliver Williamson adalah pemenang nobel ekonomi tahun 2009. Yang menarik ternyata, adalah satu orang dari disiplin ilmu ekonomi, sementara yang satunya lagi dari disiplin politik. Apa artinya ini? Apakah politik dan ekonomi ternyata mulai membaur sehingga ilmuwan politik ternyata meraih nobel ekonomi?

Karya dari kedua orang ini menunjukkan bahwa ilmu ekonomi bukanlah tentang "Pasar", melainkan tentang alokasi sumber daya (alam, manusia, waktu, kelestarian lingkungan, dll) dan juga tentang distribusinya. Pasar (baik tradisional maupun pasar modern) muncul karena pasar ini berfungsi sangat baik dan efektif untuk mengalokasikan beberapa dari sumber daya ini. Namun yang perlu ditekankan dalam tesis mereka adalah dalam kata "BEBERAPA". Alternatif dan aturan-aturan lainnya telah disusun untuk menangani ketidakmampuan pasar ini dalam mengelola alokasi dan distribusi sumber daya lainnya. Jadi demikianlah tema umum nobel ekonomi baik tahun 2009 ini maupun beberapa tahun yang lalu (dimana Stiglitz maupun Krugman) berupaya mencari tahu kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh sistem pasar.

Demikianlah, ketidak-sempurnaan pasar ini dicari alternatif pemecahan masalahnya, baik melalui struktur organisasi, politik (yang merupakan alasan dimana salah satu pemenangnya adalah dari ilmu politik), aturan-aturan, petunjuk moral (PANCASILA, Gotong-ROYONG), manajemen informasi, dan insentif bukan uang seperti dengan menjadi terkenal, atau dianggap sebagai penatua masyarakat.

Sering kali aturan-aturan institusi ini bergerak dengan cara menciptakan pasar baru. Misalnya dengan konsep karbon trading, dimana emisi karbon berupaya untuk dimasukkan sebagai bagian dari biaya sebab emisi karbon ini mempengaruhi kualitas udara setiap manusia, bukan cuma pembeli dari produk konsumsi tersebut. Tentu disadari pula bahwa upaya inipun sulit, hampir mustahil dan bahkan tidak praktis dalam hal upaya memonitor/memberikan penalti serta ongkos-ongkos lainnya yang terlibat.

Kita dapat menarik pemahaman lebih dalam tentang ekonomi dari tesis mereka ini. Ternyata sistem kompetisi (non-cooperative) menghasilkan output yang melenceng dan sangat tidak mencukupi dari output optimal yang seharusnya bisa dicapai. Sistem kompetisi yang ditujukan untuk menurunkan harga dan meningkatkan efisiensi/efektifitas menunjukkan hasil yang baik, namun sistem semacam ini tidak cukup untuk kasus-kasus lainnya. Kedua pemenang nobel ini menunjukkan bahwa perlu suatu desain kreatif atas suatu institusi yang bertujuan untuk menjadi suplemen dari sistem kompetisi ini agar hasil akhirnya menjadi lebih optimal, baik dari segi sosial, ekonomis dan juga keadilan.


Aliran neoliberalisme (adam smith garis keras), menyatakan bahwa tindakan-tindakan kooperatif umumnya tidak akan berhasil. Contoh saja organisasi OPEC yang ingin membatasi supply agar harga minyak mentah menjadi tinggi. Tindakan-tindakan kooperatif umumnya selalu diiringi dengan penyakit "free rider". Misalnya saja dalam negara komunisme, akan ada banyak orang yang memilih untuk menganggur dan tidak bekerja sebab tanpa bekerja pun mereka masih bisa makan. Atau dalam kasus OPEC misalnya, bahwa semakin tinggi harga akibat supply yang semakin kering, akan semakin banyak negara yang berusaha untuk membangkang dan mulai menjual melebihi kuota yang diberikan kepada negara tersebut.

Contoh lainnya adalah tentang kolaborasi pengetahuan. Kita tahu bahwa pengetahuan/knowledge memiliki karakteristik yang unik, yakni bila seseorang memiliki pengetahuan, dan jika ia membagikannya maka ia masih akan memiliki pengetahuan itu sendiri tapi disaat yang sama orang lain juga akan memilikinya. Namun harus diakui bahwa proses dan biaya untuk mencari pengetahuan awal tersebut bukanlah proses yang mudah (biaya melakukan inovasi adalah tinggi). Jadi bila suatu perusahaan berupaya melakukan inovasi, insentif apakah yang dapat digunakan agar inovasi ini bermanfaat untuk orang banyak (semakin banyak inovasi) tapi insentif bagi inovator ini masih tetap ada? Kolaborasi pengetahuan tentu diketahui akan lebih mempercepat inovasi, namun disaat yang sama insentif bagi orang-per-orang (atau perusahaan) akan semakin menurun. Kita contohkan saja antara perang pembuatan software microsoft yang menggunakan paten dibandingkan dengan sistem open-source seperti linux. Linux sering memberikan inovasi dan teknologi tinggi tapi ternyata insentif keuangannya ternyata juga tidak banyak. Malah sampai sekarangpun Microsoft masih meraja-lela. "They examine the boundaries between the firm and the market" - as the Nobel Comittee put it.

Ostrom juga mencari tahu bahwa sumber daya umum (public property) ternyata tidak selalu harus diprivatisasi ataupun diserahkan kepada pemerintah. Kebaikan umum bagi masyarakat (a common good) umumnya bersifat kompetisi namun pada saat yang sama ia juga harus dibagi (shared but at the same time rivalrous). Artinya bila seseorang menggunakan kebaikan itu (menebang hutan untuk keuntungan moneter) maka orang lain akan kehilangan benefit dari hutan tersebut (kelestarian, udara segar, flora, fauna, dll). Beberapa bentuk common goods memiliki opsi untuk diprivatisasi atau digunakan sebagai hak publik, namun beberapa sudah tak memiliki opsi tersebut. Contohnya saja laut, sungai dan udara bersih adalah hampir tidak mungkin untuk di jadikan milik orang pribadi/perusahaan.

Dan bila kita mau berbicara tentang BUMN (privatisasi atau dijadikan milik negara atau sebagai common goods), ada baiknya juga kita perlu mengetahui tentang ide yang dikemukakan Ostrom dan Williamson ini.

Masalah kesehatan masyarakat dan penanganan pandemi (penyakit menular) tidak seharusnya dilakukan secara private/melalui sistem kompetisi, namun harusnya dilakukan secara kooperatif. Demikian pula tentang masalah kebersihan udara dan kelangsungan hidup bumi ini. Kegiatan kooperasi manusia/negara untuk mengangani pencemaran lingkungan/udara juga adalah suatu tindakan yang sebaiknya dilakukan secara kooperatif. Namun kembali kita bertanya apakah sistem kooperasi ini bisa berjalan? Insentif apa yang perlu diberikan agar kebaikan masyarakat umum ini bisa dicapai tanpa adanya free rider?

Dan kita kembali kepada sistem ekonomi pancasila dan prinsip ekonomi koperasi yang banyak didengungkan di milis-milis.... Barangkali sudah saatnya kita juga ikut serta dalam pengembangan sistem insentif yang memungkinkan berlangsungnya sistem kooperatif, sambil pada saat yang sama menghindari kehancuran ekonomi komunisme yang notabene seharusnya merupakan sistem kooperatif.

http://www.forbes.com/2009/10/12/economics-nobel-elinor-ostrom-oliver-williamson-opinions-contributors-michael-spence.html