Sistem ekonomi otokratik atau sering dikenal dengan nama 'command and control' adalah sistem yang dianut oleh negara-negara komunis. Dasar pemikiran dari sistem command and control ini adalah bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah akan membawa keadilan yang lebih merata.
Namun kenyataan menunjukkan bahwa keadilan yang dicari oleh pemerintah ini dapat terkorupsi sebab aparat negara yang merencanakan pembangunan dan merencanakan pemerataan ini ternyata berubah menjadi eksklusif. Kekuasaan yang terlalu besar pada pemerintah telah mengubah fokus mereka untuk menjaga kelanggengan pemerintah dan mulai menerapkan tangan besi untuk memaksakan kehendak.
Semakin keras pemerintah menekan dan memaksa, semakin rendah moral rakyat untuk berproduksi. Dan anekdot populer setelah keruntuhan tembok Berlin menggambarkan gagalnya pemaksaan dan aturan ekonomi 'command and control' yang diterapkan oleh pemerintahan komunis Jerman Timur tersebut. Disebutkan bahwa penduduk Jerman Timur tidak pernah memakan pisang sebab buah pisang ini tidak pernah diproduksi di Jerman Timur. Berbagai toko-toko buah dan makanan pun akhirnya mulai berdiri di sepanjang jalan yang menghubungkan perbatasan Jerman Timur dan Jerman Barat. Pemerintah Jerman Barat pun menyadari keinginan penduduk Jerman Timur untuk mencoba rasa buah pisang yang eksotik ini, Pemerintah Jerman Barat kemudian membagikan buah pisang gratis pada penduduk Jerman Timur untuk merayakan runtuhnya komunisme di tempat Postdamer Platz, Berlin segera setelah tembok Berlin itu diruntuhkan.
Disini dibuktikan bahwa prinsip ekonomi pasar bebas jelas memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan ekonomi 'command and control'. Pasar bebas akan menyediakan barang yang diinginkan penduduk, dan bukannya barang yang menurut para birokrat dibutuhkan oleh penduduk. Landasan utama keajaiban sistem pasar bebas ini bisa diringkas dengan peribahasa berikut: dua kepala menghasilkan solusi yang lebih baik daripada solusi satu kepala. Dan dengan mengikut-sertakan seluruh otak-otak masyarakat untuk berpartisipasi dalam sistem ekonomi ini, maka sistem ekonomi pasar telah terbukti lebih unggul dari sistem ekonomi command and control.
Lalu teknik apa yang memungkinkan semua orang untuk berpartisipasi? Yang pertama adalah adanya hubungan antara usaha dan hasil. Tiap orang yang ingin memperoleh sesuatu keuntungan perlu menyumbangkan kerja yang dapat dinikmati oleh orang lain (pembayar/konsumen). Jadi pelaku-pelaku ekonomi yang dapat mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan dapat menyediakan barang atau jasa yang memenuhi keinginan konsumen dengan harga murah dan kualitas tinggi akan menerima balas jasa yang seimbang dengan usahanya tersebut. Demikianlah maka sistem ekonomi yang baik akhirnya akan berorientasi lebih kepada pemenuhan kebutuhan konsumen.
Lalu bagaimana dengan produsen? Kita ingat bahwa elemen utama dari sistem ekonomi yang baik adalah pemenuhan kebutuhan konsumen. Produsen yang baik tentu harus dapat mengenal kebutuhan konsumennya. Masalah timbul bila produsen ini memiliki kemampuan yang besar untuk memanipulasi persepsi konsumen. Alih-alih menunggu dan mencari apa yang dibutuhkan konsumen, produsen dapat menciptakan barang baru dan membujuk konsumen agar konsumen percaya bahwa barang yang mereka produksi dibutuhkan oleh konsumen.
Kita berikan contoh ekstrim pada industri narkoba. Konsumen yang dulunya tidak membutuhkan narkoba bisa dibujuk dan dibuat kecanduan sehingga produsen narkoba memperoleh konsumen baru dan industri narkoba yang sebenarnya tidak diperlukan akhirnya menjadi kebutuhan pokok dari konsumen tersebut. Contoh lain yang agak ringan barangkali dalam hal industri rokok. Rokok jelas bukanlah kebutuhan utama manusia sebab manusia bisa hidup normal tanpa merokok. Namun berbagai iklan dan advertisement dapat mengubah persepsi muda-mudi yang seharusnya sehat dan menjauhi rokok, dan mengubahnya menjadi pecandu rokok karena mereka tidak bisa lepas dari efek nikotin dalam rokok. Contoh lainnya juga adalah dimana produsen barang impor mewah yang menyatakan bahwa wanita/pria tidak akan cantik/ganteng kalau tidak menggunakan barang impor asli yang harganya dibawah 50 juta rupiah, misalnya.
Disinilah dapat kita lihat bahwa ternyata sedikit demi sedikit konsumen mulai kehilangan posisi pentingnya dalam proses pasar bebas ini. Posisi sentral konsumen sebenarnya telah digantikan oleh produsen yang dapat 'memaksakan' konsumen untuk membeli barang yang diproduksi oleh produsen.
Jadi ini adalah salah satu kelemahan sistem pasar bebas, yang dikenal dengan nama 'peng-agung-agungan konsumerisme'. Penamaan ini sebenarnya salah nama, sebab walaupun yang diusung tinggi dalam iklan-iklan adalah kata-kata 'Buy... Buy,.... Consume.... Consume...." fokus utama dari iklan ini adalah kekuatan produsen yang ternyata sudah melebihi kekuatan konsumen secara agregat.
Sunday, September 27, 2009
Monday, September 21, 2009
Tentang Keuntungan
dari "Ten Points about Profit" - Martin Wolf
"Fourth, the idea that a company is an entity that can be freely bought and sold is culturally specific. It is the view, above all, of Anglo Americans. It is not shared in most of the rest of the world. The reason for this divergence is that, for many cultures, a company is viewed as being an enduring social entity.
I once read that, for many Japanese, one can no more sell a company over the heads of its workers than one can sell one's grandmother. In this view, goods and services can be bought and sold. Companies, like countries (or as we all now agree, people), must not be.
In this perspective, shareholders are not genuine owners. They contribute nothing of value to the competitive strenghts of the firm, enjoy the benefits of limited liability, and are well able to diversify the risks they run. They are merely an (ever shifting) group of people with a claim to the residual income. Those with the biggest (undiversifiable) investment in hte firm - and thus the greatest exposure to firm-specific risks- are not shareholders but core workers. The interest of the latter are, therefore, paramount.
"Fourth, the idea that a company is an entity that can be freely bought and sold is culturally specific. It is the view, above all, of Anglo Americans. It is not shared in most of the rest of the world. The reason for this divergence is that, for many cultures, a company is viewed as being an enduring social entity.
I once read that, for many Japanese, one can no more sell a company over the heads of its workers than one can sell one's grandmother. In this view, goods and services can be bought and sold. Companies, like countries (or as we all now agree, people), must not be.
In this perspective, shareholders are not genuine owners. They contribute nothing of value to the competitive strenghts of the firm, enjoy the benefits of limited liability, and are well able to diversify the risks they run. They are merely an (ever shifting) group of people with a claim to the residual income. Those with the biggest (undiversifiable) investment in hte firm - and thus the greatest exposure to firm-specific risks- are not shareholders but core workers. The interest of the latter are, therefore, paramount.
Friday, September 18, 2009
Glasnot & Perestroika
Ringkasan dari Interview Jeffrey D. Sachs dengan Frontline, 1999
Di dalam panasnya perkembangan Reformasi dan Keterbukaan yang didengungkan Boris Yeltsin, Jeffrey D Sachs adalah salah satu penasihat ekonomi untuk Rusia. Sachs mendapat kesempatan istimewa untuk melakukan pengamatan mendalam dari posisinya ini.
Perubahan arah ekonomi yang sangat mengagumkan ini dimulai di tahun 1991-1992 dengan dibubarkannya Soviet Union. Dan menurut konsensus pasar bebas dan demokrasi, arah perubahan yang terjadi ini adalah awal yang sangat baik. IMF, World Bank, PBB, dan juga pemerintahan negara-negara lain tidak perlu ikut campur ataupun memberikan bantuan untuk memupuk demokrasi yang baik di negara-negara Rusia dan 14 negara baru yang dulunya merupakan bagian dari Soviet Union.
Mereka memerlukan dana untuk pembangunan, dan IMF maupun World Bank tentu mengerti. Namun konsep Invisible Hand Adam Smith yang dibawa ke titik ekstrim pada masa pemerintahan Reagan dan Thatcher jelas-jelas menunjukkan bahwa negara-negara baru tersebut sudah bebas dan bisa berupaya sendiri untuk mencari kesejahteraannya masing-masing. Tidak perlu ada campur tangan pemerintah dan lembaga ekonomi internasional. Pandangan filosofis ini dikenal dengan nama Washington Consensus.
"The washington consensus had a lot of merit in one sense. It did provide some sensible, broad ideas about how countries that were outside of the international system could become part of the international system. But it became a substitute for real thinking. It became a kind of mantra, a substitute for assistance, because the idea was 'You don't need us. You don't need any help. You don't even need a time-out on your debt payments. You just have to follow the magic rules, one through ten, and you'll be just fine.' So in this sense, everything became over simplified. The actions of the IMF and World Bank became very stylized. The US Treasury had its model, and unfortunately, at that level of simplicity, it just doesn't work."
Sachs menjelaskan bahwa rumus-rumus yang diterapkan konsensus washington tersebut lerlalu menyederhanakan masalah. Rumus tersebut menjadi mantra dan menggantikan akal sehat. Tidak ada tenggang waktu pembayaran hutang, tak ada bantuan, semuanya diserahkan kepada pasar bebas dan keberuntungan masing-masing negara. Walaupun secara garis besar Sachs menyetujui tujuan dan bentuk yang ingin dicapai dari rumus-rumus ekonomi tersebut, pada level pelaksanaan, rumus tersebut terlalu sederhana dan tidak akan dapat berjalan dengan baik.
Mantra yang didengungkan IMF adalah untuk membuka pasar bebas agar dapat ikut serta dalam sirkulasi ekonomi, termasuk juga pasar finansial. Ada banyak merit dari sistem ini, tapi bagaimana mengelola perubahaan tersebut menjadi terbuka juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan berintegrasi secara sukses dalam sistem internasional tersebut. The economy may need some tender loving care also, not just the so-called hard truths, if its going to succeed.
Dan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan dan budget pemerintah, mereka mulai membuka pasar obligasi pemerintah, obligasi swasta dan pasar saham. Hutang pemerintah dalam jumlah wajar dan yang dapat dimanage akan sangat bermanfaat. Masalah timbul sebab tanpa adanya sumber pendapatan yang stabil ataupun tanpa adanya dana bantuan dari lembaga internasional, maka hutang-hutang ini akan berubah menjadi masalah. Sumber-sumber pendapatan negara banyak berkurang karena perusahaan negara diubah dan diprivatisasi menjadi swasta. Korupsi dan upaya menghindari pembayaran pajak dari perusahaan yang telah diprivatisasi ini kemudian akhirnya memberatkan anggaran negara. Sumber pendapatan yang seharusnya diterima negara malah dicuri oleh para koruptor konglomerat yang sebenarnya diciptakan oleh pemerintah itu sendiri. Korupsi dalam proses privatisasi aset negara sudah sedemikian marak sampai-sampai akhirnya pemerintah terpaksa menggunakan dana hutang jangka pendek dengan bunga sampai 50% untuk memenuhi kebutuhan belanja negara.
"Those resources could have been turned to real money, to be used to pay pensions, to close the budget deficit, to keep inflation low, to get the reforms under way. But thye gave away those natural resources, and ended up instead relying on borrowing from international speculators and investors, at very high interest rates, on very short term debts"
Semakin lama, hutang jangka pendek (hot money) ini berkembang semakin besar dan membengkak sedemikian rupa hingga pembayaran bunga hutang pun sudah menjadi sedemikian berat. Anehnya, pasar finansial yang bebas ini justru masih mengucurkan dana-dana panas ke pasar finansial Rusia. Hedge Fund dan Fund Manager sudah kecanduan dengan keuntungan 50% yang begitu mudahnya di dapat dalam JANGKA PENDEK ini. Sampai akhirnya sistem keuangan Asia mendapat guncangan hebat di tahun 1997. Spekulasi mata uang Asia yang berakibat pada kasus-kasus gagal bayar (default) mulai bermunculan.
Fund Manager dan Bank yang tadinya berlomba-lomba meminjamkan uang ke Rusia akhirnya mulai merasa takut. Greed berubah menjadi Fear. Satu demi satu Dana Jangka PENDEK ini mulai ditarik. Tanpa adanya uang baru untuk menambal lubang hutang yang lama, Rusia dan juga Brazil yang berada pada kondisi yang sama akhirnya mulai runtuh. Eventually both of the collapsed.
"But in the short term, the International Community told both of them, 'Don't give up. Use your reserves. Defend the currency. Raise interest rates even higher.', which I think is the kiss of death for employment, for growth and so on. IMF, World Bank easily give this kiss of Death because Wall Street is getting the high interest rates. So already, in October 1997 both Russia and Brazil were on a collision course with history. I was amazed with the advice in Asia. I was amazed at the advice given to Russia and Brazil, because it was basically the same everywhere. 'Just raise those interest rates and keep paying the foreign investors, because that is what establishes confidence, after all. If need be, we'll give you the money to do it'."
Something have to be done, but nobody was doing anything, until the race car eventually hit the brick wall at full speed in a direct collision.
And how was all that started?
In early 1990's, when a lot of the developing world opened up to international capital flows, without the right kind of regulatory environment, and not understanding how vulnerable they would become to panics and euphoric waves of sentiment, they ended up with a tremendous amount of short term debt. Often they were invested in VERY good long term projects, but projects that weren't going to pay off for five or 10 or 20 years.
Di dalam panasnya perkembangan Reformasi dan Keterbukaan yang didengungkan Boris Yeltsin, Jeffrey D Sachs adalah salah satu penasihat ekonomi untuk Rusia. Sachs mendapat kesempatan istimewa untuk melakukan pengamatan mendalam dari posisinya ini.
Perubahan arah ekonomi yang sangat mengagumkan ini dimulai di tahun 1991-1992 dengan dibubarkannya Soviet Union. Dan menurut konsensus pasar bebas dan demokrasi, arah perubahan yang terjadi ini adalah awal yang sangat baik. IMF, World Bank, PBB, dan juga pemerintahan negara-negara lain tidak perlu ikut campur ataupun memberikan bantuan untuk memupuk demokrasi yang baik di negara-negara Rusia dan 14 negara baru yang dulunya merupakan bagian dari Soviet Union.
Mereka memerlukan dana untuk pembangunan, dan IMF maupun World Bank tentu mengerti. Namun konsep Invisible Hand Adam Smith yang dibawa ke titik ekstrim pada masa pemerintahan Reagan dan Thatcher jelas-jelas menunjukkan bahwa negara-negara baru tersebut sudah bebas dan bisa berupaya sendiri untuk mencari kesejahteraannya masing-masing. Tidak perlu ada campur tangan pemerintah dan lembaga ekonomi internasional. Pandangan filosofis ini dikenal dengan nama Washington Consensus.
"The washington consensus had a lot of merit in one sense. It did provide some sensible, broad ideas about how countries that were outside of the international system could become part of the international system. But it became a substitute for real thinking. It became a kind of mantra, a substitute for assistance, because the idea was 'You don't need us. You don't need any help. You don't even need a time-out on your debt payments. You just have to follow the magic rules, one through ten, and you'll be just fine.' So in this sense, everything became over simplified. The actions of the IMF and World Bank became very stylized. The US Treasury had its model, and unfortunately, at that level of simplicity, it just doesn't work."
Sachs menjelaskan bahwa rumus-rumus yang diterapkan konsensus washington tersebut lerlalu menyederhanakan masalah. Rumus tersebut menjadi mantra dan menggantikan akal sehat. Tidak ada tenggang waktu pembayaran hutang, tak ada bantuan, semuanya diserahkan kepada pasar bebas dan keberuntungan masing-masing negara. Walaupun secara garis besar Sachs menyetujui tujuan dan bentuk yang ingin dicapai dari rumus-rumus ekonomi tersebut, pada level pelaksanaan, rumus tersebut terlalu sederhana dan tidak akan dapat berjalan dengan baik.
Mantra yang didengungkan IMF adalah untuk membuka pasar bebas agar dapat ikut serta dalam sirkulasi ekonomi, termasuk juga pasar finansial. Ada banyak merit dari sistem ini, tapi bagaimana mengelola perubahaan tersebut menjadi terbuka juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan berintegrasi secara sukses dalam sistem internasional tersebut. The economy may need some tender loving care also, not just the so-called hard truths, if its going to succeed.
Dan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan dan budget pemerintah, mereka mulai membuka pasar obligasi pemerintah, obligasi swasta dan pasar saham. Hutang pemerintah dalam jumlah wajar dan yang dapat dimanage akan sangat bermanfaat. Masalah timbul sebab tanpa adanya sumber pendapatan yang stabil ataupun tanpa adanya dana bantuan dari lembaga internasional, maka hutang-hutang ini akan berubah menjadi masalah. Sumber-sumber pendapatan negara banyak berkurang karena perusahaan negara diubah dan diprivatisasi menjadi swasta. Korupsi dan upaya menghindari pembayaran pajak dari perusahaan yang telah diprivatisasi ini kemudian akhirnya memberatkan anggaran negara. Sumber pendapatan yang seharusnya diterima negara malah dicuri oleh para koruptor konglomerat yang sebenarnya diciptakan oleh pemerintah itu sendiri. Korupsi dalam proses privatisasi aset negara sudah sedemikian marak sampai-sampai akhirnya pemerintah terpaksa menggunakan dana hutang jangka pendek dengan bunga sampai 50% untuk memenuhi kebutuhan belanja negara.
"Those resources could have been turned to real money, to be used to pay pensions, to close the budget deficit, to keep inflation low, to get the reforms under way. But thye gave away those natural resources, and ended up instead relying on borrowing from international speculators and investors, at very high interest rates, on very short term debts"
Semakin lama, hutang jangka pendek (hot money) ini berkembang semakin besar dan membengkak sedemikian rupa hingga pembayaran bunga hutang pun sudah menjadi sedemikian berat. Anehnya, pasar finansial yang bebas ini justru masih mengucurkan dana-dana panas ke pasar finansial Rusia. Hedge Fund dan Fund Manager sudah kecanduan dengan keuntungan 50% yang begitu mudahnya di dapat dalam JANGKA PENDEK ini. Sampai akhirnya sistem keuangan Asia mendapat guncangan hebat di tahun 1997. Spekulasi mata uang Asia yang berakibat pada kasus-kasus gagal bayar (default) mulai bermunculan.
Fund Manager dan Bank yang tadinya berlomba-lomba meminjamkan uang ke Rusia akhirnya mulai merasa takut. Greed berubah menjadi Fear. Satu demi satu Dana Jangka PENDEK ini mulai ditarik. Tanpa adanya uang baru untuk menambal lubang hutang yang lama, Rusia dan juga Brazil yang berada pada kondisi yang sama akhirnya mulai runtuh. Eventually both of the collapsed.
"But in the short term, the International Community told both of them, 'Don't give up. Use your reserves. Defend the currency. Raise interest rates even higher.', which I think is the kiss of death for employment, for growth and so on. IMF, World Bank easily give this kiss of Death because Wall Street is getting the high interest rates. So already, in October 1997 both Russia and Brazil were on a collision course with history. I was amazed with the advice in Asia. I was amazed at the advice given to Russia and Brazil, because it was basically the same everywhere. 'Just raise those interest rates and keep paying the foreign investors, because that is what establishes confidence, after all. If need be, we'll give you the money to do it'."
Something have to be done, but nobody was doing anything, until the race car eventually hit the brick wall at full speed in a direct collision.
And how was all that started?
In early 1990's, when a lot of the developing world opened up to international capital flows, without the right kind of regulatory environment, and not understanding how vulnerable they would become to panics and euphoric waves of sentiment, they ended up with a tremendous amount of short term debt. Often they were invested in VERY good long term projects, but projects that weren't going to pay off for five or 10 or 20 years.
Subscribe to:
Posts (Atom)